Ramai, riuh..
Tawa berjatuhan di sana-sini.
Kasak-kusuk anak muda, malam Minggu..
Membawa kabar burung dengan berani.
Langit, mulai merintih.
Sepersatu bulir gerimispun jatuh.
Tatkala gigil kudapati.
Saat semilir, menyentuh tubuh.
Selalu banyak cara, untuk mengingatmu.
Pun begitu saat ini.
Selalu banyak tempat, untuk mengingatmu.
Di tengah tanah lapang, dengan rinai hujan.
Selalu banyak waktu, untuk mengingatmu.
Tak peduli, walau purnama kian meninggi.
Lantas,
Wajahku menghadap langit.
Membiarkan tulang pipi terbasahi.
Ah! Aku terperanjat lagi.
Wajahku memanas,
Sesaat kemudian air hujan--air mata; bercampur syahdu.
Entah, sakit atau bahagia.
Aku jatuh pada senyummu yang telaga.
Pada rona matamu, aku merana.
Bagaimana bisa...
Cintaku terpenjara.
Dalam diam yang sempurna.
-Bintang, Senja-