Kamis, 21 Januari 2016

Perempuanmu?

“Mengertilah, perempuanku..” begitu katamu setiap kali kau ingin memenangkan perdebatan di malam yang panjang, saat kita berdua di ranjang tanpa satupun bantal.

Kita adalah entah apa.
Hilang lalu datang lagi setelah puluhan jam yang berlalu.
“Aku kangen kamu juga”, sepertinya jadi alasan.
Hal terpuitis adalah, aku tak pernah tahu bagaimana menolak pertemuan yang dengan kamu.
Oh. Menikmati aroma tubuhmu juga jadi puisi termanis baru-baru ini.
Habis karenanya, pergi dari kamu pasti menjadi penyesalan terbesarku sekali lagi.

Beradu senyum denganmu, aku takut.
Mati aku, jatuh lagi mencintai kamu.
Terserah, bagaimana alam mengartikan kita.
Bersamamu, indah rasanya.

Tak bergerak aku, ditatap sepasang mata.
Berdiam dalam dekap lengan-lenganmu yang menenangkan.
Irama rintik hujan bermain dalam kepala.
Kemudian kita hilang dalam ciuman-ciuman yang menyenangkan.

Dari balik selimut,
Tanganmu lagi-lagi mengusap pipiku.
Kita melupa siapa kita.
Terbaring lelah, lantas berbenah.

“Maaf, cintaku,” kalimat yang selalu kau pakai ketika fajar kembali bersinar.