Senin, 31 Maret 2014

Lidah ku tidak lagi berfungsi.

Manusia sangatlah berharga.
Manusia sangatlah berbudaya.
Manusia sangatlah cerdik akalnya.
Tapi,
Manusia juga pandai berbicara.
Manusia juga pandai menghujat lawannya.
Manusia juga pandai memalsukan hatinya.

Begitu besar anugerah Tuhan terhadap umatNya..
Tapi, sudahkah kita cakap menggunakannya?

Sangatlah manis berbicara ketika membutuhkan.
Dan menghilang saat sudah mendapatkan.

Mulut sudah tak lagi dipakai sesuai kegunaannya.
Cemooh dan fitnah, terus terucap secara sengaja.

Entah..
Sudah berapa hati yang tersakiti.
Sudah berapa banyak kawan yang menahan malu.
Sudah berapa banyak pula air mata yang terurai.
Ya..
Akibat mulut yang sangat lancang menuding seseorang.
Mulut yang dengan bangganya membuka aib seseorang.
Mulut yang terbiasa manertawakan kemalangan seseorang.

Ampun, Tuhan..
Jika memang lidah pada mulut ini sudah tidak mampu bekerja sesuai fungsinya..
Biarlah akhirat dengan kejam menyiksanya.

-Bintang, Senja-

Sabtu, 29 Maret 2014

Kata Orang...

Halo. Kenalin gue, Fasca. Mahasiswi semester 2, yang hidupnya penuh dengan kemelut cinta. Apaan, sih.. Iya, soal cinta emang gue gak pernah beruntung. Kalian gimana? Udah bisa move on? Masih nangisin orang yang gak penting? Masih bertahan diselingkuhin? Masih nunggu yang gak jelas? Kalo masih udah pasti begoknya elo berada pada stadium akhir. Tapi, tenang.. Paling enggak lo gak begok sendirian. Masih ada gue.

Sebelum pembahasan kita makin dalam, pasti di tengah cerita bakal banyak yang nanya, "kok gak malu sih cerita soal pribadi kayak gini?" atau "ini serius nih yang lo omongin?", gini ya, gue gak bisa nulis hal-hal yang gak pernah terjadi sebelumnya. Gue anti banget imajinasiin hal yang mau gue tulis alias cerita fiktif. Pernah nyoba bikin cerita fiktif beberapa kali, dalam bentuk narasi maupun dialog, dan semua gak pernah selesai. Semua berenti di tengah-tengah cerita. Biasanya karena gue jenuh. Ya gimana, lo dipaksa buat menghayal. Ya kali deh.. Jadi, pasti yang gue tulis itu pernah atau sedang terjadi, minimal nyerempet dikitlah sama suasana hati.

Oke, balik lagi dengan kemelut cinta anak muda nan rupawan walau dengan otak yang tertinggal. Tertinggal... di masa lalu. Yahelah~ Iya, gue itu gampang banget jatuh cinta. Eh enggak deh.. Gampang nyaman doang sama orang baru. Biasanya sih hal-hal kayak gini terjadi sama orang yang gampang bergaul, periang, pemimpin dan tapi sensitif hatinya. Ya kayak gue cmehehe. Kalo ada di antara elo yang sama kayak gue, berhati-hatilah dalam menerima perhatian dari seseorang. Karena, kita rentan terkena wabah penyakit kronis yang menahun. Ya, penyakit yang menyerang hati terdalam sampai ke akar-akarnya. Duh..

Tapi, semudah gue jatuh hati, semudah itu juga gue berlari. Lari dari kenyataan, kenyataan cinta, cinta buta, buta mata, mata hati, hati sakit. Ah apaan lagi sih. Dulu gue pernah pacaran hampir 3 tahun, tapi karena alasan agama yang berbeda akhirnya bahtera cinta harus kandas. Bayangin 3 tahun! Gue gak sedih-sedih amat gitu. Ya, biasa aja, awalnya doang ngerasa keilangan.. Kesini-sininya, biasa aja. Tapi, setelahnya gue jatuh hati sama orang yang baru gue kenal. Perhatian deh orangnya, tapi gue salah ngartiin itu perhatian. Dan jadilah gue seperti ini, galau tak berkesudahan. Padahal kenalnya belom ada sebulan. Kampretlah.

Cinta tuh emang gitu, misteri. Lo gak tau dimana hati lo bakal berlabuh. Lo gatau dimana mata lo bakal terpana melihat ke satu arah tanpa berkedip. Gak akan pernah tau. Maha besar Tuhan yang begitu hebatnya menciptakan manusia berpasang-pasangan. Tanpa tertukar walau lo dan jodoh lo berada di belahan dunia dengan jarak berjauhan.

Kayak sekarang ini, gue masih dengan bodohnya mencintai orang yang gak tau cinta atau enggak sama gue. Gue yang juga masih dengan setianya menunggu dia yang sekarang lagi bermain cinta dengan perempuan lain. Wait... Gue tau pasti sekarang lo lagi mikir betapa bloonnya gue, kan? Gue makluminlah, orang kan gitu.. bisanya nasehatin doang. Nasehatinnya gak berbobot lagi, gak kreatif. Semua yang denger cerita gue, pasti rata bilang "Yaelah, Fas... kayak gak ada cowok laen aja!" Matamu soekkk.

Kalo gue bisa milih ke siapa gue jatuh cinta, gue bakal milih cowok yang gantengnya kek Rio Dewanto, badannya sekeren Joe Taslim, dan humorisnya kayak stand up comedian Bin... Nah, iya gitulah pokoknya. Masalahnya adalah hati tuh gak punya google map buat nentuin kemana arah cinta lo singgah.

Ngomongin cinta emang gak ada abisnya. Tapi, yang perlu diinget adalah.. Tuhan udah siapin satu orang buat lo. Tinggal gimana lo mau bersabar. Pernah ada sahabat yang bilang sama gue, "Jangan terlalu ngarepin datengnya pacar.", jadi ya.. dijalanin aja. Sambil usaha tapi *kemudian terjun ke jurang*. Gausah malu nangisin cinta lo, semua orang pasti pernah ngerasain, dan gak usah musingin orang yang sok nasehatin lo. Gue yakin, yang suka ngomong gitu justru orang yang gampang patah hati dan susah move on sebenernya. Abis lancar banget ngomongnya, gak pakek ngadet-ngadet.

Oh iya, ketika lo yakin dia adalah cinta yang lo harapkan, jangan pernah ragu buat memperjuangkan. Daripada diperjuangin sama orang lain? Meringis nanti. Udah, ah. Gue mau jadi puitis lagi. Bye, dude.

-Bintang, Senja-

Selasa, 25 Maret 2014

Cinta yang lain-

Hari ini, kembali aku membuka mata..
  Bernafas dengan sesaknya,
Merindu dengan dalamnya,
  Bersyukur dengan harunya,
Mencintai dengan penuhnya..

   Halo. Dimanapun saat ini kamu berada, percayalah.. doa ku menyertai mu. Kali ini, aku beranikan diri untuk berlapang dada dalam kekalahan ku yang amatlah nyata. Di tempat lain, ada wanita yang juga begitu mencintai mu. Bahkan mungkin lebih dari tulusnya cinta ku pada mu. Dia, sanggup memberikan seluruh raganya, untuk merengkuh hati mu.

   Dalam derap langkah kaki, aku kembali kepada kenyataan hidup yang tak begitu ku rindukan. Aku terbangun dari mimpi yang lama membuai lelap malam ku.

  Cinta..
  Berbahagialah dalam hidup mu..
  Raihlah cita dan cinta mu..
  Kasihilah orang yang begitu menyayangimu..
    Walau, bukan aku bagian dalam hidup mu.
    Walau, bukan aku yang menemani pencapaian mu.
    Dan..
    Walau, pasti bukan aku yang akan kau kasihi.

   Senyum ku terus menyimpul, kala ku ingat manis cara mu memperhatikan setiap sikap ku. Sikap yang sama kerasnya dengan isi hati mu. Usap tangan mu pada helai rambut ku dengan peluk cinta yang amat aku dambakan. Hingga tanpa sadar ku teteskan air mata bahagia yang perlahan membasahi sisi wajah ku. Kau seka air mata itu, dengan senyum yang seakan berkata, "Hentikan tangis itu, aku bersama mu."
Manis, bukan? Sayangnya, ini harus terkubur usang dalam memory ku..

   Cinta ku terhenti dalam perang yang belum juga ku rampungkan. Di sudut lain kota ini, ada dia yang begitu menanti peluk mu. Maka... Pergilah-

Teruntuk, kamu..
Pengisi malam ku, di bentangan langit luas.

-Bintang, Senja-

Jumat, 21 Maret 2014

Bodohnya Cinta ku-

Kamu...
Datang di saat aku begitu menanti indahnya cinta.
Kamu...
Mampu menghapus tiap goresan perih dalam hatiku.
Kamu...
Membuat aku lupa, dan bangkit dari masa lalu ku.
Kamu...
Memberi sejuta harapan yang begitu aku dambakan.

Dan semua itu tinggalah sebuah cerita. Cerita manis yang begitu membuai hati terdalam ku. Hingga saat ku sadari, betapa sangat bodohnya aku. Menaruh besarnya cinta, kepada kamu yang saat ini memilih bahagia yang lain.

Kamu...
Tak pernah bisa menjadikan ku yang kau cinta.
Kamu...
Pergi dengan alasan yang tidak pernah aku mengerti.
Kamu...
Mengubur semua mimpi dan angan bahagia ku.
Kamu...
Kembali memberi perih yang sangatlah aku benci.

Begitu malangnya nasib cinta ku. Berkali-kali aku jatuh dan mencoba bangkit. Kau datang hanya untuk sementara. Lalu pergi dengan semua kisah manis yang kita lalui. Aku terus menunggu di batas perih ini, tapi tak ada yang kunjung datang. Lalu.. Siapakah yang sedang aku nanti?

Cinta ku pergi..
Melebur bak mawar hitam yang tak kan mungkin kembali pada keindahan semulanya.

-Bintang, Senja-

Senin, 17 Maret 2014

Penantian ku.

Aku lelah.. Lelah menunggu.
Aku rindu, rindu kamu.
Untaian doa, tak ada terputus untuk mu, begitu juga untuk hati ku..

Aku berusaha melupakan kamu.
Aku berusaha menjauhkan angan tentang mu.
Tapi, bisa apa? Aku sungguh mengasihi mu.

Kemana kamu pergi?
Kemana kabar yang aku ingini?
Tolong..
Jangan diamkan aku seperti ini.

Pada hakikatnya, wanita selalu berjuang akan cintanya.
Dia mampu menyembunyikan sedihnya.
Tapi, betapa rapuh hatinya, jika kamu pergi tanpa pesan yang dimauinya.

Bicaralah..
Sesakit apapun itu..
Seretak apapun hati ku kelak menerimanya, aku siap.
Sungguh, aku menunggu.

Dalam tangis.. -Bintang, Senja-

Minggu, 16 Maret 2014

Pernahkah?

Pernahkah kamu tertawa dalam sedih mu?
Pernahkah kamu berkata iya pada hal yang tidak pernah kamu sukai?
Pernahkah kamu berusaha terlihat bahagia, untuk menutupi luka pada hati mu?
Pernahkah kamu berada pada posisi harus melupakan kenangan yang tidak mungkin terlupakan?

Ya, tertawa saat mendapat kabar bahwa dia lebih memilih wanita lain.
Ya, berkata bahwa aku tidak cemburu padahal hati ku hancur.
Ya, berusaha menutupi itu dengan senyum bahagia ku yang adalah palsu belaka.
Ya, aku harus melupakan saat dimana kita "manis" bersama.

Lalu? Apa yang harus dilakukan?
Cari tahu! Cari tahu sendiri, apa dia adalah orang yang baik untuk kamu perjuangkan atau baik untuk kamu tinggalkan.
Jika, dia masih terus mengumbar cintanya kepada banyak perempuan, sudah jelas, Dia bukanlah yang terbaik!

"Tapi, dia masih memberikan perhatian pada ku."
Oh iya, sudah pasti.. Pada banyak perempuan pun dia mampu memberikan perhatiannya. Apalagi hanya kepada kamu yang sangat mudah dibodohi. Dibodohi dengan hal yang kau anggap "cinta".

Perempuan cantik..
Iya, aku, kamu dan kalian..
Cinta tidaklah buta.
Cinta mampu melihat kekurangan dan kelebihan pasangannya.
Jika, kamu hanya melihat segala hal baik (yang tidak tahu ketulusannya) tanpa melihat kekurangannya, itu bukan cinta. Tinggalkan.

-Bintang, Senja-