Selasa, 27 Mei 2014

Patricia Unna.

Unna adalah sahabatku, atau anggap saja saudaraku. Iya, sejak lahir Unna sudah tinggal bersama kami. Lantaran ibundanya, bunda Nancy, meninggal di malam saat melahirkan Unna. Bunda Nancy adalah sahabat mama, jadi, mana mungkin mama tega membiarkan putri sahabatnya sendiri terlantar. 19 tahun sudah kami bersama, 19 tahun pula, menjadi saat-saat mencekamkan dalam hidupku. Mengapa? Mari ku ceritakan..

Menurut mama, Unna baik-baik saja, sama seperti anak lainnya, tidak ada yang aneh dengan dia. Tapi, sepengetahuanku, ada hal yang janggal dalam diri Unna.

Kami selalu bermain bersama, congklak, lompat tali, dan lainnya. Apa yang aku punya, pasti dipunyainya, gaun, buku, boneka, bandana, semua dengan model sama, hanya berbeda warna.

Lain daripada aku yang cerewet, Unna begitu pendiam, sikapnya dingin, tanpa gurat bahagia dari wajahnya. Bahkan aku mampu menghitung berapa kali ia melempar senyum dalam 19 tahun ini. Mama dan papa tak pernah menyadarinya, tapi aku? Aku yang tahu percis bagaimana dia.

Seringkali aku memergoki Unna dengan tatapan kosong, melihat keluar jendela dari dalam kamar kami. Benar, aku dan Unna, tidur dalam satu kamar. Maklum, papa hanya pensiunan Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Papa tidak mampu membeli rumah baru yang lebih besar. Rumah ini adalah rumah tua peninggalan kakek. Jauh dari keramaian, dan dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Pendudukpun jarang, banyak yang sudah pindah ke kota besar. Maka, bayangkanlah bagaimana posisiku, melihat gadis berusia 9, menatap kosong keluar jendela (yang sebut saja luar itu, hutan belantara), lalu kemudian mendengar tawa kecilnya sesaat sebelum ruangan menjadi hening di dalam kepalaku. Antara aneh atau...........

Seiring berjalannya waktu, aku terbiasa dengan pemandangan itu.

Sampai pada suatu sore, kira-kira sehabis magrib, aku hendak memanggilnya keluar dari kamar untuk makan malam. Senja itu hari Kamis malam Jum'at, langkahku terhenti di ambang pintu kamar yang tidak tertutup sepenuhnya.

Ku lihat Unna kecil duduk bersila di lantai, rambutnya tak terkepang seperti biasa. Bibir mungilnya komat-kamit seakan berbicara dengan seseorang yang entah siapa. Begitu aku sangat penasaran, maka ku putuskan untuk mencari tahu. Akan ku buktikan pada mama dan papa, tentang keanehan Unna yang selama ini ku ceritakan.

Ku telisik diam-diam, jujur saja ini hanya kesoktahuanku. Sebenarnya aku sudah tak sanggup menahan gemetar. Takut-takut Unna, atau bahkan..... dia yang berbicara dengannya memergoki aku.

Dan benarlah, belum sempat ku raih gagang pintu untuk membukanya lebih lebar, Unna sudah berada tepat dihadapanku. Bola matanya hitam pekat dengan garis kemerahan, rambutnya yang terurai seakan mencekik aku dalam rasa takut yang amat sangat. Sontak aku berteriak, memecah sore itu, aku terlempar kira-kira beberapa jengkal dari bibir pintu. Dan kembali terbangun besok paginya, dengan ngeri yang luar biasa.

Walau sulit melupakannya, aku putuskan untuk tidak mengingatnya.

Hari kembali pulih-walau dalam cemas. Tidak sampai disitu, setelah perayaan ulang tahun kami bersama, yang ke-19, belum lama ini, dan masih terjadi sampai kini, peristiwa aneh datang bertubi-tubi menghampiri kami. Hingga aku sendiripun tak sanggup menyimpulkan apa maksud semua ini. Sungguh, ini aneh tapi nyata. Orang bilang ini mitos, tapi ini terjadi pada kami.

-----

Unna memang cantik, dia pandai membenahi diri, banyak lelaki yang tertarik akan kecantikannya. Selain itu, nilai akademik Unna jauh di atasku. Dia adalah gadis yang pandai. Sayangnya, biarpun banyak lelaki yang mengantre untuk mendapatkan hatinya, Unna tak pernah bertahan lama dalam hubungan percintaannya.

Unna bercerita padaku, bahwa Bunda Nancy sering muncul dalam mimpinya. Seperti memberi peringatan atau semacam kode untuk hal yang Unna sendiri tak mengerti maksudnya.

"Na, kenapa lagi, sih, kamu udahin hubunganmu itu?" Ku buka percakapan seusai mandi sore itu.

"Sepertinya Bunda enggak setuju." Jawabnya singkat.

"Apa sih yang ada di kepalamu itu?! Bunda udah bahagia disana, jangan dikait-kaitkan, gak baik, Na." Jelasku.

"Semalam aku bermimpi, ada di acara pernikahan." Sambil menyisir rambutnya, ia bercerita.

"Pernikahan? Siapa? Dimana tempatnya?" Pertanyaan yang melesat dari mulutku, berharap semua terjawab tanpa terlewat.

"Sepertinya pernikahan... aku.." Diletakkannya sisir pada meja rias, dikepangnya rambutnya, lalu ia melanjutkan ceritanya.

"Aku memakai gaun panjang, dengan mutiara perak sebagai pelengkap. Bisa ku pastikan, itu bukan ditaman, tapi penuh dengan tanaman dan pepohonan. Banyak tamu berdatangan, wajah mereka pucat. Aku tidak melihat kamu, bahkan mama atau papa dalam acara itu. Kemudian, bunda datang menggandeng seorang pria bersamanya." Jelasnya begitu panjang.

"Siapa? Romeo? Claif? Atau....." Ku sebutkan satu persatu mantan kekasihnya.

"Nggak, bukan mereka yang aku kenal. Mukanya buram, tapi dengan sinar tajam. Aku gak bisa menerka siapa dia. Tapi, jelas, raut wajah bunda seakan memaksa aku menikah dengannya. Seram." Begitulah Unna menutup ceritanya.

---

*Glek* seperti ada yang menyangkut di tenggorokan saat mendengar cerita itu. Awalnya ku pikir, ini hanya.. ya, mimpi. Bunga tidur. Tapi, aku terpaksa mempercayai cerita itu, membuang jauh-jauh teori bunga tidur itu. Tat kala, banyak mimpi yang nyata terjadi dalam keseharian Unna.

Setelah keperawanan Unna direnggut oleh laki-laki kurang ajar, yang mengaku mencintai Unna. Mama dan papa hancur. Biar bagaimanapun, Unna sudah menjadi bagian keluarga ini, anak mama dan papaku. Ini adalah cambuk bagi mama dan papa, begitu juga aku. Belakangan aku tahu, semalam sebelum kejadian itu, Unna bermimpi dipatuk ular besar, bunda Nancy ada dalam mimpi itu, tapi tak berbuat apa-apa.

Bukan hanya itu, 3 bulan setelah kejadian itu, aku hampir gila dengan cerita-cerita mimpi Unna, yang menjadi nyata di hadapanku.

Minggu pagi pukul 10, kami semua berkumpul di ruang keluarga. Papa sedang menyemir sepatu kesayangannya, aku sibuk melukis pada kanvasku, sementara mama dan Unna merajut beberapa helai sweater guna untuk dijual kepada tetangga.

----

"Ma, semalam Unna bermimpi, lagi..." Unna bercerita dengan nada yang tak biasa, dia ketakutan.

Astaga... apalagi, sih, yang dimimpikan anak ini!

Mama menghela nafas dan menyambut pernyataan Unna.

"Mimpi apa, sayang?" Wajah mama teduh, walau aku tahu sebenarnya mama takut mendengar mimpi Unna.

"Semalam, Unna mimpi gigi susu Unna tanggal, ma..."

Ya ampun! Awas kalau mimpi gigi ini dikaitkan lagi sama hal aneh, atau soal bundanya. Ku jahit bibirnya nanti.

"Lalu.... bunda datang membawanya lari sambil tertawa-tawa."

----

Emosiku memuncak, ku lemparkan semua kuas yang sedari tadi menari-nari diatas kanvas seakan menahan amarah pada Unna dan leluconnya.

"Stop, Unna, stop! Kamu mau bilang apa lagi? Aku muak sama semua ceritamu? Cukup buat keluarga ini bingung!" Ku pukul meja di hadapan Unna kuat-kuat.

Belum usai amarahku terlontarkan, keanehan kembali terjadi. Papa menatap ke arah lukisanku.

"Kak, (begitu sapaan papa kepadaku), daritadi kamu melukiskan wajah bunda Nancy?" Pertanyaan papa membuat mataku panas dan berair.

----

*Deg* seketika ku dengar suara piano, khas-khas di film horor mengisi daun sampai gendang telingaku hingga mau pecah.

Airmata mengembang pada kelopak yang menunggu jatuh. Aku menahan tangis heran, aku terdiam dalam pangkuan papa, aku tak mampu berkata-kata, sungguh aku tidak berniat menggambarkan paras bunda Nancy di kanvas itu, aku hanya mampu menggambar buah dan pemandangan seperti anak TK pada umumnya, lalu mengapa itu bisa......terjadi......

Lukisan itu seperti menatapiku. Aku takut. Aku menangis sepanjang hari. Pikirku, apa bunda Nancy marah karena anaknya baru saja ku bentak?
Papa berniat membakar lukisan itu, tapi mama melerangnya. Lalu, menyimpannya ke gudang.

----

Keesokan harinya, Senin 12 Maret 1984.

Unna terbaring kaku dan tak lagi membuka matanya. Ia melipat tangan diatas dadanya, dengan senyum begitu cantiknya, rambut kepang dua ciri khasnya mengantar perginya.

Seperti kilat di siang bolong, ini mengejutkanku. Unna tidak sakit, tidak celaka, lalu kenapa dia?

Sungguh Tuhan, ini menyebalkan.

Pertama, aku kehilangan Unna, sahabat sekaligus saudaraku sejak kecil, teman bermainku. Ia pergi tanpa pesan dan salam.
-- Maafkan aku, Unna. Aku menyesal membentakmu kemarin itu.

Kedua, ia meninggalkan sejuta tanya dalam benakku.
-- Apa iya, ini makna dari tanggalnya gigi Unna?

Tapi Tuhan sungguhlah Maha Pemurah, Ia menjawab semua pertanyaanku---- lewat-mimpi.

Aku bermimpi, terperosok ke dalam semak berlubang, tapi tak sakit. Kemudian Unna datang, dengan senyum simpulnyang tak pernah ku lihat semasa hidupnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu aku.

Tepat seminggu setelah kepergian Unna.

19 Maret 1984, hari ini...

Ku lihat, aku terbaring di tengah kerumunan tetangga dan para kerabat. Mama dan papa menangis di atas badanku yang tertidur. Sama seperti Unna, senyum pengantar matiku, tak kalah cantiknya.

----

Mungkin Tuhan tak ingin memisahkan aku dan Unna.
Tuhan tak ingin memisahkan sang sahabat dalam waktu yang lama.
Lalu, kami bergandengan, meninggalkan dunia fana.

-Bintang, Senja-

Kamis, 15 Mei 2014

Beri judul sesuka mu.

Kepada kamu yang sudah lama menghuni hati dan jiwa..
Sudahkah kamu merasakan cinta yang aku punya?

Tapak kaki terus menyusuri pasir putih ini. Sesekali ku tengok laut yang tak berujung. Layaknya cinta kepada mu, mungkin aku sedang mengarunginya demi menemui titik akhir, untuk menyandarkan perahuku di bibir pantai mu. Dan, ya.... tak kunjung ku temui titik itu.
Kalaulah kamu sudah melihat ku dari kejauhan, tak inginkah engkau mengajak aku mampir, hanya untuk menemani mu menikmati langit senja? Walau sebenarnya, aku inginkan lebih.
Itulah sedikit gambaranku tentang; 'aku' dan 'kamu'.

Jika mencintaimu adalah dosa yang sangat besar, maka mungkin ketika mati nanti, Tuhan tak perlu repot menimbang-nimbang amalku.

Entah apa yang merasuki aku. Seperti tidak sadar, aku mencintai mu. Rasa ini tidak hanya sekedar ada, tapi penuh dan menyesakan dada. Bodohnya, aku hanya menyimpannya saja-
~ Bukan tak pernah ku berniat mengatakannya, hanya saja lidah ini kelu tiap kali mencobanya.
~ Bukan karena alasan aku seorang perempuan, hanya saja beraniku belum juga mengungkapkan.

Soal cinta dan airmata, adalah dua hal yang sulit ku pisahkan saat ku biarkan hatiku untuk mengasihimu. Mungkin kamu sudah mengetahuinya, tapi berpura-pura tak melihatnya. Aku juga tak dapat memaksamu untuk mengerti segalanya.

Aku adalah wanita yang memiliki ambisi luar biasa untuk meraih pencapaianku. Tapi tidak tentang kamu. Semangatku seperti luntur terbias hujan. Kata emansipasi seperti tak terbaca oleh mata. Aku seperti gadis pada zaman Siti Nurbaya yang tidak mampu menolak perjodohan. Aku benar-benar lemah.

Andai saja mata dapat berkata, dan hati mampu mengekspresikan cinta. Aku akan memohon kamu untuk duduk di hadapanku, memandangi aku dari kepala hingga kaki untuk sejenak, agar pesan itu tersampaikan.

Jarak bukanlah masalah, tapi ada tembok besar yang memisahkan kita. Ialah, gengsi yang bertumpukan hingga sangat sulit dihancurkan. Aku dengan rasa maluku, kamu dengan ego mempertahankan hal yang kau sebut dengan persahabatan..

Banyak orang bilang, dewasa kini tak perlu kita melabelkan hubungan dengan status berpacaran. Aku sendiri tidak mengerti apa artinya kata itu. Hanya saja wanita butuh kejelasan.
Ada masanya aku akan cemburu;
Jika ada yang memperhatikan mu, selain aku.
Jika ada yang memberi mu semangat, selain aku.
Jika ada yang mencoba mencintai mu, selain aku.
  Dan ketika itu, tak ada hal yang mampu ku lakukan. Karena, aku dan kamu tak pernah menjadi kita.
Aku-tidak-berhak.

Tahukah kamu, menunggu adalah hal yang membosankan. Sekali lagi, ini bukan perkara aku perempuan. Ku rasa sudah berbagai cara aku menunjukan. Lalu, kapan kau sudahi penantian?
Sebelum semua terlambat.

-Bintang, Senja-

Selasa, 06 Mei 2014

Pesan singkat.

Mencintaimu kini sudah menjadi rutinitasku.
Merindumu tidak lagi hal yang tabu bagiku.
Bahkan saat matahari terbit hingga lelap di ambang senja, aku masih juga terjaga.
Hampir tak ada sedetikpun terlewatkan, untuk biarkan rasa ini hilang.

--

Hai, apa kabar?
Lagi-lagi aku menulis soal kamu, soal kesesakanku yang tak kunjung usai.
Saat ini pukul 1 pagi lebih kurang, aku belum juga bergeliat dengan selimut. Lantas aku beranjak, membuat kopi putih guna menemaniku larut dalam kenangan. Ku buka lagi pesan-pesan yang kau kirim ke nomorku di masa itu. Tersenyum, air mata mengembang pada kelopak mata yang mulai lelah mengeluarkan sedihnya. Jangan tanyakan, aku memang sengaja menyimpan semua pesan cinta itu selepas pergimu. Hanya itu satu-satunya hal yang dapat aku nikmati untuk bahagiaku.

Lalu bagaimana keadaan mu sekarang?
Tahukah kamu, doa tiada henti ku kirimkan untukmu. Selalu, saat aku membuka mata dan sebelum kembali menutupnya, aku bertelut dalam malam. Tiadakah kamu merasa doa itu mengalir, mengelilingi tawa dan tangis mu? Begitulah caraku mencintaimu. Andai ada cara lain untuk aku lebih dekat pada mu selain dengan doa, mungkin akan aku lakukan. Tapi-nyatanya-tidak.

Satu hal yang masih ku sesali sampai kini. Aku tak jua mampu menaklukkan tantangan untuk mendapatkan mu. Aku kalah.

Mungkin kamu tidak akan peduli. Tapi, biar ku jelaskan alasan mengapa aku menyerah dalam juang untuk mendapatkanmu. Kala itu, aku begitu bersemangat mencintaimu, aku menginginkanmu dengan sangat. Aku membutuhkanmu. Aku jatuh hati pada caramu memperlakukanku bak putri dalam istananya.Aku terbuai-- Sampai saat dimana kau hilang dalam bayang. Kau berubah. Ada yang aneh dalam dirimu siang itu.

Tapi, langkahku berjuang tidaklah usai. Aku bertanya pada kita. Ada apa dengan kita? Kau mengacuhkan pertanyaanku. Sekali waktu kau menjawab dengan nada dan ucap yang semakin buatku tak mengerti. Kau balik bertanya, apa yang salah denganku. Kau bilang aku menuduhmu dengan macam hal. Sungguh, itu janggal.

Pada akhirnya aku mengerti, aku paham apa maksudmu selama ini.. Dia-buatmu-berpaling.

Jadi, bukan aku tak berusaha pertahankan kamu, pertahankan kita. Hanya saja, sakit bila dia yang begitu sangat kita cinta mendua di atas setia. Aku tak mampu seperti ini. Bukan, bukan karena aku tidak mau dengar penjelasanmu.. Tapi, luka sudah terlalu dalam. Maka ku tinggalkan.

Walau sesal begitu memenuhi aku. Aku yang beranjak tinggalkan cinta. Cintamu bersama dia.

Kedengarannya bodoh, aku masih saja mengingat-ingat kamu yang dengan mudah menodai rasa. Ya, bagaimana.. cinta memang buta, kan? Saat-saat ini, aku hanya mampu memandangi gambar-gambar kenangan kita, sebagai penawar rindu.

Manis kecupmu masih terasa.
Dalam diam aku meraba.
Air mata terbendung sendu.
Kesal membuai syahdu.

Tapi tak apa, biarkan aku terbiasa. Ada dua pesan untukmu;

Pertama, tolong jangan lagi kembali menemui aku. Jangan lagi memintaku mengulang segalanya. Berjanjilah, sekeras apapun aku meminta satu saat nanti, jangan pernah berniat untuk mencintai ku lagi. Karena, aku tak ingin sakit lagi. Setelah pesan ini kau baca, yakinlah aku sudah melupakanmu.

Kedua, jangan sakiti siapapun lagi. Biar aku saja yang mengalami. Aku tahu rasanya dihianati, dibohongi, didustai, itu menyebalkan. Rasanya, seperti gagal aku menggunakan akalku. Bisa-bisanya aku lengah dalam cintamu. Tapi, sudahlah.. intinya jangan ulangi ini pada siapapun. Kamu tau karma? Cepat atau lambat dia akan menghampirimu, jika kamu tidak juga berubah.

Pilihan ditangan mu, aku tidak berhak memaksamu untuk melakukannya (kecuali yang pertama, aku mohon padamu untuk yang satu itu). Hidup ini berputar, mungkin saat ini kamu bahagia telah mengacuhkan ku. Nanti, kamu akan diacuhkan, percayalah.

Sebagai sesama makhluk, aku tidak jua menyimpan dendam. Aku berlapang dada pada sakit yang ku terima. Doaku tetap menyertai. Semoga kamu berubah.

Ah.. Tidak terasa, cangkir kopiku sudahlah kosong. Aku tidak berniat mengisinya lagi, toh tulisan dan rindu ini harus diahiri. Kasurku menanti--

-Bintang, Senja-