Mencintaimu kini sudah menjadi rutinitasku.
Merindumu tidak lagi hal yang tabu bagiku.
Bahkan saat matahari terbit hingga lelap di ambang senja, aku masih juga terjaga.
Hampir tak ada sedetikpun terlewatkan, untuk biarkan rasa ini hilang.
--
Hai, apa kabar?
Lagi-lagi aku menulis soal kamu, soal kesesakanku yang tak kunjung usai.
Saat ini pukul 1 pagi lebih kurang, aku belum juga bergeliat dengan selimut. Lantas aku beranjak, membuat kopi putih guna menemaniku larut dalam kenangan. Ku buka lagi pesan-pesan yang kau kirim ke nomorku di masa itu. Tersenyum, air mata mengembang pada kelopak mata yang mulai lelah mengeluarkan sedihnya. Jangan tanyakan, aku memang sengaja menyimpan semua pesan cinta itu selepas pergimu. Hanya itu satu-satunya hal yang dapat aku nikmati untuk bahagiaku.
Lalu bagaimana keadaan mu sekarang?
Tahukah kamu, doa tiada henti ku kirimkan untukmu. Selalu, saat aku membuka mata dan sebelum kembali menutupnya, aku bertelut dalam malam. Tiadakah kamu merasa doa itu mengalir, mengelilingi tawa dan tangis mu? Begitulah caraku mencintaimu. Andai ada cara lain untuk aku lebih dekat pada mu selain dengan doa, mungkin akan aku lakukan. Tapi-nyatanya-tidak.
Satu hal yang masih ku sesali sampai kini. Aku tak jua mampu menaklukkan tantangan untuk mendapatkan mu. Aku kalah.
Mungkin kamu tidak akan peduli. Tapi, biar ku jelaskan alasan mengapa aku menyerah dalam juang untuk mendapatkanmu. Kala itu, aku begitu bersemangat mencintaimu, aku menginginkanmu dengan sangat. Aku membutuhkanmu. Aku jatuh hati pada caramu memperlakukanku bak putri dalam istananya.Aku terbuai-- Sampai saat dimana kau hilang dalam bayang. Kau berubah. Ada yang aneh dalam dirimu siang itu.
Tapi, langkahku berjuang tidaklah usai. Aku bertanya pada kita. Ada apa dengan kita? Kau mengacuhkan pertanyaanku. Sekali waktu kau menjawab dengan nada dan ucap yang semakin buatku tak mengerti. Kau balik bertanya, apa yang salah denganku. Kau bilang aku menuduhmu dengan macam hal. Sungguh, itu janggal.
Pada akhirnya aku mengerti, aku paham apa maksudmu selama ini.. Dia-buatmu-berpaling.
Jadi, bukan aku tak berusaha pertahankan kamu, pertahankan kita. Hanya saja, sakit bila dia yang begitu sangat kita cinta mendua di atas setia. Aku tak mampu seperti ini. Bukan, bukan karena aku tidak mau dengar penjelasanmu.. Tapi, luka sudah terlalu dalam. Maka ku tinggalkan.
Walau sesal begitu memenuhi aku. Aku yang beranjak tinggalkan cinta. Cintamu bersama dia.
Kedengarannya bodoh, aku masih saja mengingat-ingat kamu yang dengan mudah menodai rasa. Ya, bagaimana.. cinta memang buta, kan? Saat-saat ini, aku hanya mampu memandangi gambar-gambar kenangan kita, sebagai penawar rindu.
Manis kecupmu masih terasa.
Dalam diam aku meraba.
Air mata terbendung sendu.
Kesal membuai syahdu.
Tapi tak apa, biarkan aku terbiasa. Ada dua pesan untukmu;
Pertama, tolong jangan lagi kembali menemui aku. Jangan lagi memintaku mengulang segalanya. Berjanjilah, sekeras apapun aku meminta satu saat nanti, jangan pernah berniat untuk mencintai ku lagi. Karena, aku tak ingin sakit lagi. Setelah pesan ini kau baca, yakinlah aku sudah melupakanmu.
Kedua, jangan sakiti siapapun lagi. Biar aku saja yang mengalami. Aku tahu rasanya dihianati, dibohongi, didustai, itu menyebalkan. Rasanya, seperti gagal aku menggunakan akalku. Bisa-bisanya aku lengah dalam cintamu. Tapi, sudahlah.. intinya jangan ulangi ini pada siapapun. Kamu tau karma? Cepat atau lambat dia akan menghampirimu, jika kamu tidak juga berubah.
Pilihan ditangan mu, aku tidak berhak memaksamu untuk melakukannya (kecuali yang pertama, aku mohon padamu untuk yang satu itu). Hidup ini berputar, mungkin saat ini kamu bahagia telah mengacuhkan ku. Nanti, kamu akan diacuhkan, percayalah.
Sebagai sesama makhluk, aku tidak jua menyimpan dendam. Aku berlapang dada pada sakit yang ku terima. Doaku tetap menyertai. Semoga kamu berubah.
Ah.. Tidak terasa, cangkir kopiku sudahlah kosong. Aku tidak berniat mengisinya lagi, toh tulisan dan rindu ini harus diahiri. Kasurku menanti--
-Bintang, Senja-
apa pantas saat kita merindukan orang yang sudah menyakiti kita?
BalasHapussekeras apapun usaha yg kita lakukan untuk melupakannya, ada saatnya kita dipertemukan kembali oleh-Nya..