"Kita pernah sama-sama mengukir cita dengan cinta. Lalu, mengapakah kini rak bertumpuk cerita, kau biarkan berdebu sia-sia?"
Ada yang hilang dari aku, setelah perpisahan malam itu. Entah, apalagi rencana indah yang sedang Tuhan rancangkan untukku.
Yang aku tahu, aku kehilangan kamu.
Senyum matamu yang teduh.
Aku kehilangan, tawamu yang juga aku.
Aku kehilangan segudang cerita harimu yang keluh.
Kemudian, dengan percakapan diujung telepon, kita mampu mengembalikan peluh menjadi senyum simpul untuk bersyukur.
---
Sungguh, saat ini aku sedang mengingat-ingat tentang kamu.
Tentang lagu yang kau dendangkan, yang jelas lagu itu bercerita tentang kita selalu.
Mungkin,
Tentang hari-hari dimana kau jemput aku di stasiun dengan wajah yang sumringah.
Ah, iya..
Tentang senja yang kita lewati, dengan pelukan serta debar saat bibir bersentuhan.
Atau,
Tentang lampu jalanan ibu kota, yang menyinari setiap siluet tubuh dan roda motor yang berputar, sesaat sebelum kau antar aku pulang.
" Ialah aku; telungkup dalam selimut-selimut wewangi tubuhmu. --- Benar, aku rindu kamu."
---
"Pada malam yang masih panjang, aku menaruh harap pada hati yang acap kali mengubur dan mengenang rasa sayang. Kamu-"
Iya, jujur aku masih-sungguh-mengharapkanmu. Terlalu besar, angan yang kugantungkan pada kamu di masa itu.
Terlalu banyak hal yang rasanya sulit untuk dilupakan.
Terlalu remeh untuk dibiarkan pergi.
"Serupa kusen pada jendela-jendela kamar yang terbias hujan. Begitu, rapuh hati seorang puan menanti kembali cinta sang tuan."
---
Sampai pada akhirnya, dengan tanpa merasa berdosa, kau ungkap dusta yang selama ini kuanggap cinta.
Begini, dalam mencintai tidak ada alasan untuk mencari yang lebih-lebih-lebih dari baik. Itu omong kosong, Al. Tidak akan ada habisnya.
Kecewa yang kudapati, adalah ketika kusadari ada waktu yang terbuang begitu percuma saat-saat dimana sebelumnya kita berbagi rasa. Karena, benar adanya itu hanya bualan semata. --- Aku mencinta sendiri.
Ingin aku menyumpahi kamu dalam doa, tapi apa daya.... aku telah jatuh hati padamu. Sehingga tak sampai hati aku berkata serapah untuk membuatmu celaka.
Rindu kini kian usang. Biarkan ia mati bersama nyeri.
"Tertidurlah, Al. Bangun dan lupalah pada apa yang sudah susah payah kita lewati. Adalah juang upaya merengkuh sayang. Begitu, kan?"
-Bintang, Senja-
Thanks! :))
BalasHapus