Kamis, 21 Januari 2016

Perempuanmu?

“Mengertilah, perempuanku..” begitu katamu setiap kali kau ingin memenangkan perdebatan di malam yang panjang, saat kita berdua di ranjang tanpa satupun bantal.

Kita adalah entah apa.
Hilang lalu datang lagi setelah puluhan jam yang berlalu.
“Aku kangen kamu juga”, sepertinya jadi alasan.
Hal terpuitis adalah, aku tak pernah tahu bagaimana menolak pertemuan yang dengan kamu.
Oh. Menikmati aroma tubuhmu juga jadi puisi termanis baru-baru ini.
Habis karenanya, pergi dari kamu pasti menjadi penyesalan terbesarku sekali lagi.

Beradu senyum denganmu, aku takut.
Mati aku, jatuh lagi mencintai kamu.
Terserah, bagaimana alam mengartikan kita.
Bersamamu, indah rasanya.

Tak bergerak aku, ditatap sepasang mata.
Berdiam dalam dekap lengan-lenganmu yang menenangkan.
Irama rintik hujan bermain dalam kepala.
Kemudian kita hilang dalam ciuman-ciuman yang menyenangkan.

Dari balik selimut,
Tanganmu lagi-lagi mengusap pipiku.
Kita melupa siapa kita.
Terbaring lelah, lantas berbenah.

“Maaf, cintaku,” kalimat yang selalu kau pakai ketika fajar kembali bersinar.

Kamis, 12 Februari 2015

Bagaimana Kabarmu, Pa?

Pagiku memandang pada selembar foto, bergambar dirimu. Lalu mendengar lagu kesukaan yang sering kita nyanyikan, Pa. "Inang Ni Gellengku". Ingat? Kau pernah bilang, lagu ini bercerita akan kecintaan dan rasa syukur seorang suami pada isterinya. Dan rasa bersalahnya karena sempat mengecewakan isteri tercintanya. Karena itu, saya semakin mencintai isterimu, Pa. Agar ia tak merasa kehilangan cintanya yang daripada engkau. Walau memang mungkin, cinta saya terhadap Mama, tak sebesar cintamu padanya.

Ah, ya.. sekarang ini saya mampu melakukan hal-hal yang biasanya kau lakukan. Memalu paku untuk keperluan berapa hal misalnya. Habis, Natan masih terlalu kecil untuk melakukannya. (Dan juga... dia makin berani melawan saya, Pa. Tapi, tenang... akan kupukul dia sesekali. Ah, tapi tidak juga deh. Tak lagi ada yang membelanya jika saja kumarahi--engkau)

Berbahagialah, Pa. Saya mencintai anda yang begitu mencintai Ibu yang telah melahirkan saya. Yang juga sempat mendidik dengan luar biasa seorang adik laki-laki untuk menjaga saya dan mama kelak.

Oh.. bagaimanakah bentuk surga? Indah bukan? Kalau benar adanya, titip salam pada Ia, ya, Pa.. agar menyiapkan satu tempat untuk saya, Mama, dan Natan. Sampai jumpa lagi.

-Margareth Lumbanraja, Februari 2015.-

Selasa, 03 Februari 2015

Untuk Seniorku di Kelas Paduan Suara

Mungkin, saya adalah perempuan dengan seribu ruang di hati.
Ataukah.. penikmat luka yang sejati?

Orang bilang, nyaman saja tidak cukup untuk mempercayai hati kita jatuh pada siapa.
Benar, buktinya.. hati saya pernah jatuh pada anda.

**

Apa kabar, Kak Jev?
Dan, bagaimana kabar hubunganmu dengan... kekasihmu?
Kuharap baik saja, ya.. manis romantis seperti teh tarik yang baru saja habis kusesap.
Kelihatannya, kalian begitu serasi.
Semoga, tak hanya sekadar yang kulihat. ^^

Kak, ingatkah engkau pada sore di mana, kau tergesa menemuiku di aula gereja?
Waktu itu, adalah jadwal rutin kita berlatih paduan suara.
Masih dengan seragam basket andalan sekolahmu dulu, kau hampiri aku yang sedang kewalahan dengan nada minor yang baru kita dapat dari pelatih saat itu.
Kau bercerita tentang hubungan asmaramu, yang baru saja kau jalani dalam hitungan minggu. Kalau tidak salah, ia juniormu di sekolah, ya?

Memang itu bukan kali pertama, kau bercerita soal pacarmu.
Tapi, sore itu berbeda, Kak.
Kegirangan kau peluk aku sangat kuat, yang kalau dipikir-pikir, hampir habis napasku lantaran kau cengkram dengan tanganmu itu. Hehehe.
Mungkin, 10 menit lebih kurang kudengar kau bercerita masih dalam pelukanmu.

Kau bilang, perempuan itu sudah lama kau taksir.
Kau bilang, rambutnya panjang, lurus, sepundak.
Kau bilang, putih kulitnya bak pualam.
Kau bilang, kau sungguh-sungguh menyukainya.
Aku? Bahagia melihat binar matamu bercerita kesenangan, Kak.

Karena, sepanjang kau bercerita aku banyak diam walau sesekali tertawa, akhirnya perlahan kau renggangkan pelukanmu.
Katamu, "Maaf, aku cerewet, ya?"
Hahaha. Dari air mukamu, sepertinya baru saja aku menangkapmu tersipu.
Namun, tak mampu kujawab lagi pertanyaan itu.
Sejenak, hening. Saat persis kumandang Adzan dari Masjid yang tak jauh dari Gereja kita terdengar-Aku selalu mengagumi lokasi Gereja kita dan Masjid ini, Kak.. rasanya damai, ya, melihat beda dapat berjalan senada. Dengan caranya masing-masing tentunya-lalu canggung yang kemudian kita dapati.

** Eh, sebelumnya sampaikan maafku pada kekasihmu saat ini ya, Kak. Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian dengan cerita-cerita mantan pacarmu dulu. **

Setelah sore itu, tak pernah lagi ada saat di mana kau bercerita soal pacarmu atau perempuan lain atau latihan basketmu yang melelahkan atau... semuanya.
Kenapa, Kak?
Dengar-dengar dari teman yang lain, kau takut aku marah.
Hahaha. Entahlah, Kak. Tapi, serius.. tak pernah ada sesalku berada dalam pelukmu sore itu.

Hari demi hari, terus seperti itu.
Sampai kita benar-benar lupa untuk saling menyapa.

Yang mau kusampaikan dalam surat ini sederhana.
Mmm..
Perempuan memang sulit ditebak, Kak.
Kami akan mengoceh tak ada habisnya untuk hal yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.
Dan, akan diam seribu bahasa, walau batu besar sedang menghadang.
Begitu menyebalkan..
Tapi, tenang..
Kau hanya perlu menelaah lebih dalam.
Dan jangan pernah diam hanya karena kau pikir dengan begitu masalah akan menghilang. (Setidaknya, itu yang harus kau lakukan dulu padaku, Kak. Harusnya kau bertanya, supaya tak sesat di jalan. Hehehe. Bercanda.)

Sekarang ini, aku tak lagi berharap untuk dapat lagi mendengar ceritamu, Kak.
Teruslah matamu berbinar seperti itu, maka aku yakin kau baik-baik saja.
Berbahagialah terus (walau) dengan kekasihmu sekarang.
Ohya, sampaikan juga salamku padanya.
Bilang, aku rindu bercerita tentang laki-laki yang aku suka padanya, menerima semangatnya untuk meyakinkan bahwa lelaki itu juga menyukaiku.
Sampai pada akhirnya kutahu, dia malah berpacaran dengan lelaki itu. Hehehe. Ah, tapi sudahlah.

Jaga kesehatanmu ya! Sayonara~

**

-Bintang, Senja-

Masihkah Kita 'Berkawan'?

Setelah malam keberangkatanmu, rasanya ada yang aneh. Aku seperti kehilangan. Setelah 7 tahun tak pernah kita bertemu, saat ini harus lagi kita jauh. Bandung-Jakarta, kau bilang itu bukan apa-apa. Tapi, bagiku.. seperti ada yang kurang. Ini salah.

Esoknya dan sampai pada siang ini, selalu:
Kau buka pagiku dengan suara mengandung senyum di ujung telepon, membuat jantungku meloncat kegirangan.
Kau ingatkan aku untuk tidak lupa makan, jangan banyak main karena di luar hujan, serta memintaku memberimu kabar.
Kau kirim aku, lagu cinta dengan petikan gitar yang kau mainkan.

Lantas, naifkah kita jika menganggap semua ini hanya cara dua manusia, yang berteman akrab untuk menjalin kembali persahabatan yang pernah hilang?

---

Halo, dear!

Bagaimana langit Bandung siang ini?
Cerahkah?
Tempatku mendung. Ah.. dia tahu hatiku kelabu, rupanya. ^^
Bukan.. ini bukan soal mantan pacar yang tempo hari kuceritakan. Ini tentang kamu.
Benar.. ya.. bagaimana mungkin aku tidak termangu mendapati pertemuan intens kita, di Januari yang sudah habis itu?

Sungguh, kamu benar sudah berubah.
Tidak lagi, bocah lelaki cengeng dengan mulut ember yang gemar mengadu pada guru kalau-kalau ada teman yang menjahilimu.
Skinny jeans hitam dengan ikat pinggang kulit, lalu kemeja putih membalut badan, yang omong-omong sejak kapan kau giat berolahraga, sehingga punya banyak kotak di dadamu dan lengan-lengan keras yang menyebalkan itu? Tahu tidak? Rasanya ingin kupeluk badan itu kuat-kuat dan tidak sedetikpun ingin kulepas. Lalu, parfume yang bercampur dengan keringatmu itu justru menimbulkan aroma maskulin pria dewasa yang kemudian menghujam gairahku dengan ganas.

Ck.. jangan dulu menyeringai puas.
Kamu tidak sepenuhnya menang.
Benar memang banyak yang berubah tapi, tidak dengan mulut embermu --"
Masih saja kamu gemar meledekku dengan beberapa nama teman yang terlibat cinta monyet denganku dulu. Itu kan, ketololan masa kanak-kanak yang tak seharusnya terus diingat. Ya, maksudku, apa tidak ada lagi kenangan yang lebih menyenangkan untuk diceritakan pada pertemuan guna melepas kerinduan? Hah?

Tapi, entah mengapa, aku masih bisa tertawa pada banyolanmu yang membuat jengkel hati itu. Kurasa aku terlalu rindu kamu. Sampai sampai, apapun yang kiranya hendak kau lakukan, terserah saja. Asal jangan dulu pergi cepat-cepat. Ah, itu hanya inginku yang terlalu egois, kan? Lagi pula, apa pedulimu?

Saat ini, kita sudah kembali pada rutinitas masing-masing.
Aku sih, masih libur semester. Satu bulan lagi. Bosan.
Sementara kamu, kembali ke kota tempatmu menuntut ilmu. Eh, bagaimana seleksi vocal hari ini? Lolos? Kabari aku secepatnya, ya? (Ya.. kalau nanti Tuhan mengijinkan kamu membaca suratku untukmu ini. Hehe)

Dear,
Masihkah kita 'berkawan' seperti dulu?
Ataukah.. kau rasa juga keanehan yang kurasa?

Aku hanya berharap kita tidak terlalu bodoh, untuk memenjara rasa dalam ikatan yang tidak kita harapkan.

Tapi, kalaupun ya, perasaanku salah. Biar kelak aku dan kamu terus bersama sebagai sahabat. Seperti, janji kita dulu; kamu juga akan bersahabat dengan suamiku, pun aku dengan isterimu, dan anak-anak kita. Hahaha. Konyol sekali, ya.

Sudahlah, jaga kesehatanmu.
Sampai jumpa liburan semester depan!
(Kuharap kamu bawa jawaban yang melegakan dari pertanyaan yang memenuhi kepalaku sekarang.)

-Bintang, Senja-

Rabu, 19 November 2014

Dalam Diam yang Sempurna

Ramai, riuh..
Tawa berjatuhan di sana-sini.
Kasak-kusuk anak muda, malam Minggu..
Membawa kabar burung dengan berani.

Langit, mulai merintih.
Sepersatu bulir gerimispun jatuh.
Tatkala gigil kudapati.
Saat semilir, menyentuh tubuh.

Selalu banyak cara, untuk mengingatmu.
Pun begitu saat ini.
Selalu banyak tempat, untuk mengingatmu.
Di tengah tanah lapang, dengan rinai hujan.
Selalu banyak waktu, untuk mengingatmu.
Tak peduli, walau purnama kian meninggi.

Lantas,
Wajahku menghadap langit.
Membiarkan tulang pipi terbasahi.
Ah! Aku terperanjat lagi.
Wajahku memanas,
Sesaat kemudian air hujan--air mata; bercampur syahdu.
Entah, sakit atau bahagia.

Aku jatuh pada senyummu yang telaga.
Pada rona matamu, aku merana.
Bagaimana bisa...
Cintaku terpenjara.
Dalam diam yang sempurna.

-Bintang, Senja-

Kamis, 11 September 2014

Tentang Rindu Yang Kian Usang

"Kita pernah sama-sama mengukir cita dengan cinta. Lalu, mengapakah kini rak bertumpuk cerita, kau biarkan berdebu sia-sia?"

Ada yang hilang dari aku, setelah perpisahan malam itu. Entah, apalagi rencana indah yang sedang Tuhan rancangkan untukku.

Yang aku tahu, aku kehilangan kamu.
Senyum matamu yang teduh.
Aku kehilangan, tawamu yang juga aku.
Aku kehilangan segudang cerita harimu yang keluh.
Kemudian, dengan percakapan diujung telepon, kita mampu mengembalikan peluh menjadi senyum simpul untuk bersyukur.

---

Sungguh, saat ini aku sedang mengingat-ingat tentang kamu.
Tentang lagu yang kau dendangkan, yang jelas lagu itu bercerita tentang kita selalu.

Mungkin,
Tentang hari-hari dimana kau jemput aku di stasiun dengan wajah yang sumringah.

Ah, iya..
Tentang senja yang kita lewati, dengan pelukan serta debar saat bibir bersentuhan.

Atau,
Tentang lampu jalanan ibu kota, yang menyinari setiap siluet tubuh dan roda motor yang berputar, sesaat sebelum kau antar aku pulang.

" Ialah aku; telungkup dalam selimut-selimut wewangi tubuhmu. --- Benar, aku rindu kamu."

---

"Pada malam yang masih panjang, aku menaruh harap pada hati yang acap kali mengubur dan mengenang rasa sayang. Kamu-"

Iya, jujur aku masih-sungguh-mengharapkanmu. Terlalu besar, angan yang kugantungkan pada kamu di masa itu.
Terlalu banyak hal yang rasanya sulit untuk dilupakan.
Terlalu remeh untuk dibiarkan pergi.

"Serupa kusen pada jendela-jendela kamar yang terbias hujan. Begitu, rapuh hati seorang puan menanti kembali cinta sang tuan."

---

Sampai pada akhirnya, dengan tanpa merasa berdosa, kau ungkap dusta yang selama ini kuanggap cinta.

Begini, dalam mencintai tidak ada alasan untuk mencari yang lebih-lebih-lebih dari baik. Itu omong kosong, Al. Tidak akan ada habisnya.

Kecewa yang kudapati, adalah ketika kusadari ada waktu yang terbuang begitu percuma saat-saat dimana sebelumnya kita berbagi rasa. Karena, benar adanya itu hanya bualan semata. --- Aku mencinta sendiri.

Ingin aku menyumpahi kamu dalam doa, tapi apa daya.... aku telah jatuh hati padamu. Sehingga tak sampai hati aku berkata serapah untuk membuatmu celaka.

Rindu kini kian usang. Biarkan ia mati bersama nyeri.

"Tertidurlah, Al. Bangun dan lupalah pada apa yang sudah susah payah kita lewati. Adalah juang upaya merengkuh sayang. Begitu, kan?"


-Bintang, Senja-

Minggu, 03 Agustus 2014

Morning, dude!

Mungkin saya, kamu, dan kita sering kali jatuh untuk mencinta- tapi, sedikit yang kemudian memiliki cintanya, bahkan banyak dari kita yang lantas merasa sakit. Sakit karena urung dicintai balik. Ataupun sakit karena, malah mendapati kehilangan luar biasa dari sosok yang kita cinta.

Namun, hidup terus berjalan. Tak peduli, seberapa koyak hatimu saat ini.

Lalu, apa yang musti dilakukan?
Meratapi takdir cinta yang tak kunjung bahagia? Dengan terus menghitung tiap detik yang terbuang untuk menangisi dia yang tidak sekalipun melihat airmatamu terurai?

---

Begini, jangan berharap orang mengerti bagaimana kita. Tapi, berusahalah mengerti mereka, (siapapun). Karena dengan begitu, kita sudah menjadi lebih dewasa untuk memahami diri sendiri. Sulit memang, memberi tanpa berharap kembali. Namun, percayalah; akan ada bahagia setelah mampu membahagiakan orang lain.

Maka dari itu, "Cintai dirimu terlebih dahulu, sebelum memutuskan memberi hatimu untuk mencintai orang lain."

-Bintang, Senja-