Setelah malam keberangkatanmu, rasanya ada yang aneh. Aku seperti kehilangan. Setelah 7 tahun tak pernah kita bertemu, saat ini harus lagi kita jauh. Bandung-Jakarta, kau bilang itu bukan apa-apa. Tapi, bagiku.. seperti ada yang kurang. Ini salah.
Esoknya dan sampai pada siang ini, selalu:
Kau buka pagiku dengan suara mengandung senyum di ujung telepon, membuat jantungku meloncat kegirangan.
Kau ingatkan aku untuk tidak lupa makan, jangan banyak main karena di luar hujan, serta memintaku memberimu kabar.
Kau kirim aku, lagu cinta dengan petikan gitar yang kau mainkan.
Lantas, naifkah kita jika menganggap semua ini hanya cara dua manusia, yang berteman akrab untuk menjalin kembali persahabatan yang pernah hilang?
---
Halo, dear!
Bagaimana langit Bandung siang ini?
Cerahkah?
Tempatku mendung. Ah.. dia tahu hatiku kelabu, rupanya. ^^
Bukan.. ini bukan soal mantan pacar yang tempo hari kuceritakan. Ini tentang kamu.
Benar.. ya.. bagaimana mungkin aku tidak termangu mendapati pertemuan intens kita, di Januari yang sudah habis itu?
Sungguh, kamu benar sudah berubah.
Tidak lagi, bocah lelaki cengeng dengan mulut ember yang gemar mengadu pada guru kalau-kalau ada teman yang menjahilimu.
Skinny jeans hitam dengan ikat pinggang kulit, lalu kemeja putih membalut badan, yang omong-omong sejak kapan kau giat berolahraga, sehingga punya banyak kotak di dadamu dan lengan-lengan keras yang menyebalkan itu? Tahu tidak? Rasanya ingin kupeluk badan itu kuat-kuat dan tidak sedetikpun ingin kulepas. Lalu, parfume yang bercampur dengan keringatmu itu justru menimbulkan aroma maskulin pria dewasa yang kemudian menghujam gairahku dengan ganas.
Ck.. jangan dulu menyeringai puas.
Kamu tidak sepenuhnya menang.
Benar memang banyak yang berubah tapi, tidak dengan mulut embermu --"
Masih saja kamu gemar meledekku dengan beberapa nama teman yang terlibat cinta monyet denganku dulu. Itu kan, ketololan masa kanak-kanak yang tak seharusnya terus diingat. Ya, maksudku, apa tidak ada lagi kenangan yang lebih menyenangkan untuk diceritakan pada pertemuan guna melepas kerinduan? Hah?
Tapi, entah mengapa, aku masih bisa tertawa pada banyolanmu yang membuat jengkel hati itu. Kurasa aku terlalu rindu kamu. Sampai sampai, apapun yang kiranya hendak kau lakukan, terserah saja. Asal jangan dulu pergi cepat-cepat. Ah, itu hanya inginku yang terlalu egois, kan? Lagi pula, apa pedulimu?
Saat ini, kita sudah kembali pada rutinitas masing-masing.
Aku sih, masih libur semester. Satu bulan lagi. Bosan.
Sementara kamu, kembali ke kota tempatmu menuntut ilmu. Eh, bagaimana seleksi vocal hari ini? Lolos? Kabari aku secepatnya, ya? (Ya.. kalau nanti Tuhan mengijinkan kamu membaca suratku untukmu ini. Hehe)
Dear,
Masihkah kita 'berkawan' seperti dulu?
Ataukah.. kau rasa juga keanehan yang kurasa?
Aku hanya berharap kita tidak terlalu bodoh, untuk memenjara rasa dalam ikatan yang tidak kita harapkan.
Tapi, kalaupun ya, perasaanku salah. Biar kelak aku dan kamu terus bersama sebagai sahabat. Seperti, janji kita dulu; kamu juga akan bersahabat dengan suamiku, pun aku dengan isterimu, dan anak-anak kita. Hahaha. Konyol sekali, ya.
Sudahlah, jaga kesehatanmu.
Sampai jumpa liburan semester depan!
(Kuharap kamu bawa jawaban yang melegakan dari pertanyaan yang memenuhi kepalaku sekarang.)
-Bintang, Senja-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar