Selasa, 03 Februari 2015

Untuk Seniorku di Kelas Paduan Suara

Mungkin, saya adalah perempuan dengan seribu ruang di hati.
Ataukah.. penikmat luka yang sejati?

Orang bilang, nyaman saja tidak cukup untuk mempercayai hati kita jatuh pada siapa.
Benar, buktinya.. hati saya pernah jatuh pada anda.

**

Apa kabar, Kak Jev?
Dan, bagaimana kabar hubunganmu dengan... kekasihmu?
Kuharap baik saja, ya.. manis romantis seperti teh tarik yang baru saja habis kusesap.
Kelihatannya, kalian begitu serasi.
Semoga, tak hanya sekadar yang kulihat. ^^

Kak, ingatkah engkau pada sore di mana, kau tergesa menemuiku di aula gereja?
Waktu itu, adalah jadwal rutin kita berlatih paduan suara.
Masih dengan seragam basket andalan sekolahmu dulu, kau hampiri aku yang sedang kewalahan dengan nada minor yang baru kita dapat dari pelatih saat itu.
Kau bercerita tentang hubungan asmaramu, yang baru saja kau jalani dalam hitungan minggu. Kalau tidak salah, ia juniormu di sekolah, ya?

Memang itu bukan kali pertama, kau bercerita soal pacarmu.
Tapi, sore itu berbeda, Kak.
Kegirangan kau peluk aku sangat kuat, yang kalau dipikir-pikir, hampir habis napasku lantaran kau cengkram dengan tanganmu itu. Hehehe.
Mungkin, 10 menit lebih kurang kudengar kau bercerita masih dalam pelukanmu.

Kau bilang, perempuan itu sudah lama kau taksir.
Kau bilang, rambutnya panjang, lurus, sepundak.
Kau bilang, putih kulitnya bak pualam.
Kau bilang, kau sungguh-sungguh menyukainya.
Aku? Bahagia melihat binar matamu bercerita kesenangan, Kak.

Karena, sepanjang kau bercerita aku banyak diam walau sesekali tertawa, akhirnya perlahan kau renggangkan pelukanmu.
Katamu, "Maaf, aku cerewet, ya?"
Hahaha. Dari air mukamu, sepertinya baru saja aku menangkapmu tersipu.
Namun, tak mampu kujawab lagi pertanyaan itu.
Sejenak, hening. Saat persis kumandang Adzan dari Masjid yang tak jauh dari Gereja kita terdengar-Aku selalu mengagumi lokasi Gereja kita dan Masjid ini, Kak.. rasanya damai, ya, melihat beda dapat berjalan senada. Dengan caranya masing-masing tentunya-lalu canggung yang kemudian kita dapati.

** Eh, sebelumnya sampaikan maafku pada kekasihmu saat ini ya, Kak. Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian dengan cerita-cerita mantan pacarmu dulu. **

Setelah sore itu, tak pernah lagi ada saat di mana kau bercerita soal pacarmu atau perempuan lain atau latihan basketmu yang melelahkan atau... semuanya.
Kenapa, Kak?
Dengar-dengar dari teman yang lain, kau takut aku marah.
Hahaha. Entahlah, Kak. Tapi, serius.. tak pernah ada sesalku berada dalam pelukmu sore itu.

Hari demi hari, terus seperti itu.
Sampai kita benar-benar lupa untuk saling menyapa.

Yang mau kusampaikan dalam surat ini sederhana.
Mmm..
Perempuan memang sulit ditebak, Kak.
Kami akan mengoceh tak ada habisnya untuk hal yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.
Dan, akan diam seribu bahasa, walau batu besar sedang menghadang.
Begitu menyebalkan..
Tapi, tenang..
Kau hanya perlu menelaah lebih dalam.
Dan jangan pernah diam hanya karena kau pikir dengan begitu masalah akan menghilang. (Setidaknya, itu yang harus kau lakukan dulu padaku, Kak. Harusnya kau bertanya, supaya tak sesat di jalan. Hehehe. Bercanda.)

Sekarang ini, aku tak lagi berharap untuk dapat lagi mendengar ceritamu, Kak.
Teruslah matamu berbinar seperti itu, maka aku yakin kau baik-baik saja.
Berbahagialah terus (walau) dengan kekasihmu sekarang.
Ohya, sampaikan juga salamku padanya.
Bilang, aku rindu bercerita tentang laki-laki yang aku suka padanya, menerima semangatnya untuk meyakinkan bahwa lelaki itu juga menyukaiku.
Sampai pada akhirnya kutahu, dia malah berpacaran dengan lelaki itu. Hehehe. Ah, tapi sudahlah.

Jaga kesehatanmu ya! Sayonara~

**

-Bintang, Senja-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar