Rabu, 30 April 2014

Aturan-Peraturan.

   Halo jomblo-jomblo bahagia! Gimana harinya? Baikkah? Enggak mungkin, ya.. Namanya juga jomblo. Hus.. gak boleh marah gitu, ah. Pantesan jomblonya gak kelar-kelar, gede di ambek, sih--- Eh... kepancing kan, nih. Udah, ah. Hari ini aku gak mau ngomongin jomblo. *Pengalihan*

   Bicara aturan-peraturan, setuju gak sih sama kalimat; "Peraturan ada untuk dilanggar."? Kontroversi emang, ada yang setuju ada yang enggak. Bebas, sih.. Tapi, mari kita lihat fakta lapangan:
1.   Aturannya, naik motor harus pakai helm-- tapi dilanggar.
2.  Aturannya, Ujian Nasional harus jujur-- tapi dilanggar.
3.  Aturannya, hubungan intim satu pasangan setelah menikah-- tapi dilanggar.
4.  Aturannya, ... ... ... ... ...
Sampe,
5.  Aturannya, nyari pacar yang sama-sama jomblo-- tapi dilanggar... malah ambil punya temen. *ups.

Yang ke-5 abaikan aja, aku yakin kalian ga ada yang seperti itu, kan? Good... Ha? Apa? Ada? Sila keluar dari link ini!

   Masih banyak aturan-peraturan lain yang harusnya ditaati tapi tidak pada kenyataannya. Pertanyaannya adalah; "kenapa kita begitu menikmati melanggar aturan-aturan tsb?" He--? Menikmati? Maksudnya, Pas? Jangan aneh-aneh duluk... Yaelah, mblo.
Gini, kita itu bukan gak tau apa yang bakal kita lakuin. Kita bukannya gak tau, kalo yang kita lakuin itu salah atau enggak. Dan kita juga bukannya gak tau kalo, melanggar satu aturan yang tertera pasti ada hukumannya.

Tapi, kita masih juga melanggarnya, bukan? Contoh paling gampang gini, deh... Bangun pagi. Aturannya adalah kita harus bangun jam 5 pagi karena harus berangkat jam 6-nya. Kalo kita udah bangun jam 5 tapi masih leyeh-leyeh karena males, ya hukumannya adalah kita telat. Molor dari waktu berangkat yang udah kita tentuin sebelumnya.

   Berarti jelas secara sadar kita ngelakuinnya. Walau ketika mendapat hukuman kita lempar batu sembunyi tangan. Gak mau terima, marah-marah sendiri, katrok, norak, kampungan. Jadi yang nulis juga baru ngalamin. Petaka banget.. Ceritanya gini;

*Uts sedang berlangsung di Kampus*

Dosen : "Heh kamu!" Menunjuk ke arah ku.
Aku     : "Iya, buk?"
Dosen : "Kamu tau kan peraturan di kampus ini?" Hampir memuncak emosinya.
Aku     : "Tau, buk.."
Dosen : "Terus kenapa kamu masih pake sendal yang memperlihatkan setengah kaki mu?"
Aku     : *nunduk, diem, lemes*
Dosen : "KELUAR!"

*kemudian hening* #HalahGaul

Jadi, di kampus itu ada 2 peraturan yang sampe saat ini masih ga ngerti tujuannya apa.
Pertama, harus pakai kemeja atau kaus berkerah.
Kedua, ya itu tadi, pakai sepatu tertutup.

Alesannya? AKIK GAK TAHU, CINT! Singkat cerita, gue harus keluar dan beli sepatu untuk Ujian mata kuliah terakhir yang cuma tinggal beberapa menit. Ngeselin abis........ Sebenernya gak akan jadi masalah kalau peraturannya itu rata di berlakukan oleh semua dosen. Karena, yang pakai sepatu kebuka itu bukan cuma gue. Ba-nyak! Sayangnya, gak semua dosen sama. Ya, kalau dosennya nyantai dia gak bakal masalahin. Cuma, apeslah gue saat itu. Kebagian dosen yang angot. Ilahh~~~

   Cerita gue buat contoh, deh. Maybe, kenapa peraturan jadi sering dilanggar juga karena alesannya ya itu... "Buat apa ada peraturan kalau hukumnya aja masih belum teratur"

Ih ngomong apa sih, gue. Lagi random banget niy otak gueeeeee. Ah. Iya mikirin kamu.. Yaelah. Udah, ah.

-Bintang, Senja-

Kamis, 24 April 2014

Terlalu Cepat Aku Mengartikan Cinta.

Sudah beberapa kali kita bersua dalam kerumunan pagi di halte ini. Kamu, berseragam sama dengan yang aku pakai. Kalau memang kita begitu dekat, mengapa kamu tidak pernah melihat tatap mata ku?

-----

"Perasaan belakangan ini, girang banget, Dil?" Sambil mengunyah permen karet, perempuan batak ini bertanya pada ku. Sonya namanya.

"He? Enggak, kok. Perasan mu aja kali." Jawabku seadanya.

"Ih, enggak kok... Ivy juga ngerasa. Ya kan, Vy?" Senggolnya kepada Ivy.

"Ah... Iya, Dil. Belakangan kamu suka senyum-senyum sendiri tiap pagi." Seru Ivy membenarkan.

"Enggak... Kalian terlalu perasaan, hehehe." Acuh ku beranjak pergi.

Begitu besar pesona yang kau tanamkan. Hingga sekitarpun dapat membaca hati dan perasaan. Cinta monyet katanya.

-----

Ini pagi ke-7 kita bertemu. Rasanya aku gemas ingin memulai pertemanan. "Ah.. Tidak juga. Mungkin aku ingin lebih." Tapi, bagaimana caranya?

"Aduh.. Bisnya manaaaaa!" Gumamku kesal, dengan kedua tangan penuh tentengan.

Lagi, ku sempatkan melihat kamu; besandar pada tiang penyanggah halte di sisi lain. Dengan santai, berikut earphone, sweater rajut warna coklat muda, kau tersenyum penuh arti.

"Aduh-duh.. Pelan-pelan dong!" Agak emosi aku berujar, si bapak muda berusaha menyerobot langkah ku menaiki bis merah ini.

"Awas-awas." Dengan ketus bapak itu menjawab.

Semua barang bawaanku terjatuh. Dengan paniknya, aku berusaha merapihkan..

"Yaampun! Tunggu pak, tunggu." Ku rapihkan satu persatu bawaanku, sambil berteriak pada supir bis.

Sayang, nampaknya penumpang lain meminta si supir untuk cepat melaju.

"Loh-loh! Pak, tunggu dong! Pak!!" Ku coba berlari mengejarnya.

---

"Percuma, dikejar juga." ---

(He? Siapa yang sedang bicara sama aku? Jangan-jangan dia penjahat yang mau hipnotis aku lalu ambil barang-barang aku, lalu...............!)

"Eh, itu kertasnya penting gak?" Ucap-dia.

"I.... iya." Masih membelakangi-dia.

"Ya.. mendingan diambil, tuh. Sebelum kebawa angin." Lanjutnya.

"Waaaa. Tugaskuuuuu." Segera aku merapihkannya.

Secepat kilat aku menjangkau kertas-kertas tugasku yang penuh dengan angka dan rumus-rumus. Setelah rapih, ku pandang dia yang sedari tadi berbicara padaku. Ternyata..... itu-dia.

(Hih! Mimpi apa aku!!! Dil, itu-dia! Dia yang selama ini kamu perhatiin!)

Tawanya yang renyah seketika menyadarkan ku dari lamunan.

"Hahaha.. Mukamu panik banget." Sepertinya ia membuka pembicaraan.

Aku mematung.

"Udahlah, udah gak mungkin kekejar bisnya. Itu juga bis terakhir." Bicaranya seperti petir yang menyambar mukaku.

"Ha?!!! Yang terakhir?! Yang bener aja! Lalu aku gimana...." Hampir menangis aku bercerita, yang sebenarnya tidak tahu juga siapa yang peduli.

"Yap. Haha santai aja, sih. Anak Nusantara juga, ya?" Dia bertanya padaku? Padaku.

"Ho'oh.." Jawabku singkat, karena sedihnya.

"Gausah nyureng gitu.. Takut bolos?" Tanyanya lagi.

"Bukan...... Aku mau kumpulin tugas." Aku cemberut.

"Yakan, bukan mau mu juga kayak gini." Sambil memainkan handphone-nya.

(Bener juga, sih. Ini kan bukan mau aku. Bukan salah aku.. Lagian mungkin ini cara Tuhan biar aku bisa ngobrol sama orang ini. Hehehe)

"Kakak, anak Nusantara juga?" Pertanyaan yang sudah aku tahu pasti jawabannya. Bagaimana tidak, dia memakai seragam yang sama dengan yang aku pakai.

"Iya. Basa-basi banget pertanyaannya." Jawabannya membuat ku skakmat.

"Hooo..." Entah, apa kata yang pas untuk melanjutkan pembicaraan ini.

"Gue, Arka. Kelas 12. Lo?" Dengan manis dia berucap sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.

"Eh-- aku Dila, kak. Kelas 10. Hehe." Jawaban singkat, yang sengaja aku lontarkan. Agar terkesan pemalu. Ku raih jabat tangannya.

"Oh.. Yaudah mendingan lo pulang. Udah telat juga kalo ke sekolah." Katanya menganjurkan.

"Iya, kayaknya aku emang harus pulang. Eh, tapi.... kakak, gimana?" Tanyaku sok peduli.

"Ha? Gue? Gampanglah. Yaudah gue duluan, ya." Ujarnya seraya meninggalkan ku.

"Hati-hati lo." Ucapnya lagi, menoleh ke arahku seiring kakinya melangkah.

Aku tersenyum..
Ada bahagia yang tak bisa ku sembunyikan.
Bak apel yang mulai ranum,
Pipiku merah merekah kemudian.

-----

Percakapan yang begitu sederhana,
Membawa kesan teramat dalam.
Pada bola mata itu aku terpana,
Membuat ku mengagumi dalam diam.

Dengan bersemangat aku berjalan,
Berharap bertemu dengan sang tuan.
Pagi-pagiku terasa menyenangkan,
Senyumku terus beriringan.

---

Ini pagi di hari Kamis. Langit begitu cerah menghiasi. Semua orang berlalu lalang dihadapanku. Bis-bis bergantian membawa penumpangnya. Loh, kemana dia? Tak terlihat... Sakit? Bolos?

---

Lusa, aku sengaja berangkat lebih awal. Mungkin kemarin aku kesiangan. Maksud hati ingin bertemu tuan. Kembali aku memandang dari kejauhan. Tapi, tak jua kunjung datang.

---

(Apa sih! Kok gak pernah ketemu. Aneh. Aku udah dateng pagi, tapi gak ada. Sengaja lari-lari dari rumah, sarapan di jalan, eh tapi gak ketemu juga.)

Hei! Siluet itu..
Berdiri tegap, dengan tawa begitu lepas.
Memandang ke arah lain, dengan tatap hangat.
Itu-dia..

Berdebar jantungku,
Deras darahku,
Seperti ada rindu yang begitu liar.
Pada kagum yang tak berkesudahan.

--

Tapi..
Kepada siapa, dia tertawa?
Kemana arah pandangannya?
Sepertinya,
Dia begitu mengenalnya.

Berderap kaki ku, berjalan menghampiri mu.
Seperti semangat bercampur khawatir.
Entah, mengapa hati berkecamuk seketika.
Setelah sepertinya, ku lihat wanita menemaninya.

Ini dia...
Hampir terlihat semua.

*DEG*

Langkah berhenti seketika,
Seperti mengenalnya..
Iya, dia-yang-bersamanya.

---

Untung saja bis merah 'kita' datang, kalau tidak bisa mati aku. Tak percaya dengan yang ku lihat. Berkali-kali aku menegaskan pandanganku. Agar tak salah aku menganggap. Tapi, sungguh.. aku tau itu siapa. Aku tau siapa yang sedang tertawa bersama mu. Aku mengenalnya. (Dia..... Ivy-Teman-Baikku.)

---

Kau gandeng dia-temanku,
Lalu kemudian kalian hilang bersamaan dengan bis melaju.

Petir lalu bersambut dengan kilatnya.
Hujan kemudian turun dengan derasnya.

Aku terduduk, termangu, dan tapi masih tersenyum.
Bibirku kelu, tak ada satu katapun yang mampu terucap.

Terlalu cepatkah aku mengartikan cinta?
Hingga Tuhan menjawabnya dengan cela?

Sumpah!
Aku telah salah jatuh cinta.

Sudah!
Biarkan aku menangis dalam tawa.

Kali ini, aku menertawakan kebodohan ku sendiri.

-----

"Perlahan aksara cintaku tersapu oleh air mata syahdu. Tidakkah engkau memahami hatiku, seperti bianglala beradu?"

-Bintang, Senja-

Selasa, 15 April 2014

Se-la-mat-19!

Happy nineten!
Gak ada kue, gak ada kado, gak ada tiup lilin.. Mungkin, gue udah semakin tua. Tapi, "masa ucapan selamat dari kamu juga, gak ada.." Hehehe.
Banyak orang bilang kalo gue adalah galauers, alay, twitt isinya mewek semua. Well... Biarlah orang bicara seperti itu, dan biarlah gue terus bergalau-ria dengan kemelut cinta gue. Karena... tahun depan udah gak bisa. Kenapa? Ya.. Kalo tahun ini gue 19 tahun, lalu tahun depan umur gue...? NO!
Tua sekali, yaaaa.. Dan, gue menyadari itu, jadi sebelum gue menjadi tua, biarkan gue ngalay sepuasnya. Janji setelah itu, gue akan ber-u-bah, *SEMOGA* (--,)

Sebenernya gue juga capek, sik galau-galau gitu. Capek, juga sih ngetwitt soal cinta muluk.. Soalnya jadi berasa selebtweet wanna be gitu. Padahal, sumpah! gue mau. Hahaha. Enggak, deng. Serius gue gak tau selebtweet itu gimana caranya. Yang gue tau, gue bahas persoalan cinta gue alias nyurhat di twitter. Kalau ada yang ngerasa sama dengan yang gue alamin, lalu banyak yang ngeretweet, lantas apa iya gue jadi selebtweet? Atau sekurang-kurangnya, apa iya gue ada keinginan seperti itu? Enggaklah! Semoga yang nyinyirin gue soal twitt gue, baca postingan ini, ya:)) Gue kayak gitu karena gue jomblo, jadi cari bahagia di dunia maya. Tapi gak se-ekstrim yang lo pikir sekarang, juga.

Bicara soal jomblo, kayaknya predikat itu nista banget, ya? Gak jarang gue temuin, banyak masalah-masalah dikaitin sama status jomblo seseorang. Misal; Malem minggu ujan, disangkanya gegara doanya para jomblo. Itu, kan gak enak banget, ya? Bayangin dong perasaannya para jomblo. Padahal kalo ujan yang paling sedih tuh ya, kita-kita yang jomblo ini. Yaiyalah, biarpun ujan-badai-tsunami, lo yang pasangan masih bisa pelukan, ciuman, mainan(?), walau gak ke bioskop. Nah, kita yang jomblo? Udah di rumah, sendiri, hape mati, boro-boro meluk guling. Guling juga ogah meluk kita (jomblo). Huft. Dunia gak adil.

Harusnya ada tuh, acara-acara pencarian jodoh buat jomblo. Eh, tapi jangan yang masuk-masuk tipi, gitu.. Kan malu, kan gengsi, kita jomblo juga kan punya martabat *lah* #JombloGakTahuDiri #TerusMaunyaApa u.u

Jadi, kemaren itu, pas ulang tahun gue.. Timeline twitter, penuh sama retweet-an-nya @aMrazing (Iya.. Alexander Thian) yang gak tau searching aja, ya. Ternyata, si kokoh yang satu ini lagi jadi mak comblang bagi kaum kami. Masih sama sih formatnya kayak acara-acara cari jodoh di tipi, tapi diselenggarakan (#halahdiselenggarakan) di twitter, dengan hashtag #JomblonyaLexy, jangan lupa cantumin foto berikut pernyataan elo Straight atau enggak. Biar, gak salah milih. Hahaha. Kedengerannya sedih banget yak, jombo-jomblo ini.

Gue pengen ikutan, sik. Tapi, karena liat umur-umur yang dicantumin berkisar antara 20, dst, jadi ciut gue. Selain malu, kan gue masih kecil ya di antara mereka. Secara pengalaman gue gak ada apa-apanya. #HalahPengalaman. Tapi, gue penasaran dan masih mantengin tl-nya Alex, guna mencuci mata dengan wajah-wajah tampan, berwibawa, nan matang. Lah? Hahaha. What-a-surprised, ada beberapa mention masuk ke akun gue akibat gue mengomentari biodata mereka, yang ikutan ajang mencari jodohnya si Alex. Kalo anak gaul bilang #RejekiAnakSoleh-itu mah hihihi (--,). Lumayan banyak juga sih, hahaha.

Yang pertama, umurnya 20 tahun. Cowok, straight, gak tau deh zodiaknya apaan. Mention pertama dia, akibat respon gue adalah, "Alhamdulillah, semoga kali ini gak tante-tante", waaaa anjrit! Hahaha.
1) Doi, bilang "semoga kali ini gak tante-tante.". Ini, dia ngomong gitu udah liat avatar gue belom, yak. Gawatnya kalo udah. Berarti tampang gue......
2) Dia juga ngucap "Alhamdulillah", kebayang gak lo, betapa putus asanya kami para jomblo mencari pasangan? ;'D

Yang kedua, umurnya.... 16 tahun (menurut pengakuannnya, sik), tapi gue gak yakin, abis gaya bicaranya kayak om gue. Tuwirrrr. Dan, masih mentionan sampe sekarang, pukul 09.41 pagi, hahaha. #TernyataBenerGueTante *lah. Dalem hati, "Perjalanan mu masih panjang, dek. Mengapa begitu cepat kamu putus asa akan kejombloan mu ini" u.u~~~

Masih ada beberapa, sih. Tapi, yang paling keren, pas ada akun yang bilang dia gay, gak tau sih bener apa enggak. Komentar gue; "Salut:)! Tapi, sayang. Belajar arti cinta sama aku sini, kak:((", dia bales cuma "Mbak....", gue pikir dia cuma bercanda berarti soal gay itu. Karena gue penasaran, gue tes dong, gue bales lagi "Iya, mas?" dan..... Gak dibales sampe sekarang! Hahaha. Kesimpulannya? Simpulkan sendiri. Gue-gak-tau.

Ya, ternyata mencari pasangan di twitter-pun, yang gak sepublik acara tipi tetaplah SULIT. Dan, gagal lagi gue dapet satu. Hahaha #TernyataNiat. Enggak, sih. Cuman lumayanlah buat ganti kado ulang tahun gue. Lumayan buat ketawa-ketawa ngikik, melewati malam pertambahan umur gue. Thank, Koh Lexy!

So, buat kalian yang udah punya pasangan jangan sampe putus. Karena, biarpun banyak jomblo bilang, "Jomblo tuh bahagia, bebas!", tetep aja mereka, kami, kita, merindukan perhatian dan cinta kasih tulus. Haduh... Curhat, Pas? Iya..
Dan pelissss banget, jangan terus menghujat kami jomblo u.u doakanlah kami agar cepat mendapatkan pesangan-dan-hidup-bahagia. Tentunya, itu kan akan lebih indah. Habis itu gantian deh kita.... yang doain kalian biar putus, terus kalian jomblo, terus kalian dihujat (--,) #DendamnyaJomblo hahaha, becanda.

Yaudahlah, ya.. Makin lama, makin curhat entar gue. Hahaha. Btw, kalo udah baca, kasih komentar buat tulisan gue ya. Lewat kolom komentar di bawah, atau kalo mau lebih pribadi, bisa mention gue di akun twitter @FascariaM. Nanti bisa DM-an siapa tau. Lah, tetep. #PencarianTakKunjungUsai. Hahaha. Bye, dude.

-Bintang, Senja-

Kamis, 10 April 2014

Soal Agama.

Hai. Apa kabar, nih? Gak usah dijawab.... formalitas doang, sih. Hari ini gue mau nulis soal masalah yang sering dialami oleh kebanyakan muda-mudi, dalam hubungan pacarannya. Ini menyambung postingan gue yang berjudul "Kata Orang...", kalo gak salah akhir Maret kemaren. Yang belom baca, coba agak nyelem ke bawah, ya. Kalo kata admin salah satu akun Stand Up Comedy di twitter, "Jadi Jomblo Jangan Males!" heuheu *ketawa sinis ceritanya* Iya, sekedar info gue juga penikmat acara stand up comedy. Nanti ya kapan-kapan gue ceritain.... Siapa juga yang mau denger, ya? Oke.

Pertama, pasti pas baca judul postingan kali ini, lo pada ngira gue bakal Sara, ya? Semoga enggak, ya... Gue gak niat kesitu, kok. Kalo ada yang salah tolong nanti dikomentari aja, ya. Suwun loh, kakak-kakak senior.
Kedua, .......
Gue gak nyiapin materi buat yang kedua ini. *Jreng* Apaan, Pas..

Ya, sama seperti "Kata Orang...", masalah dalam hubungan percintaan lainnya adalah..... A-ga-ma. Agak miris sebenernya gue nulis ini, abis sebagai kawula muda yang juga sedang terhipnotis oleh manisnya buai cinta, hubungan gue juga kandas karena persoalan agama yang penuh dengan irama. Curhat ya, gue? Biarinlah ya. Iya, Pas..

Dulu... Gak dulu-dulu banget, sik. Eh-eh kenapa lagi, gue sikkkkkk.. Sorry-sorry, ulang ya.
Dulu, gue pernah pacaran hampir tiga tahun, sama anak kuliahaan.. Asik. Kiw~ rasanya bahagia deh, secara dulu kan waktu jaman-jamannya SMA keren tuh ye ngegebet anak kuliahaan. Gausah ngecengin gue.. lo juga gitu pasti, kan? Wooo. Balik lagi, waktu pertama kenalan, gue sama dia udah tau kalo kita itu beda, soal agama, suku, yang sama ya cuma perasaan kita. Hasek! Kita juga udah tau kalo hubungan ya kita jalanin ini gak bakal ada ujungnya. Gak-Bakal..

Selayaknya orang pacaran, ya kita juga sama. Smsan, dari yang standart nanyain makan sampe dengan lebay nan alaynya ngomongin pernikahan plus nama anak-anaknya. WOY! LO KENAPA, PAS~~~ Alay bener, Pas.. Untung gue gak pakek ayah-bunda, mami-papi, dll, dll ya. Huahaha. Kenapa? Kesindir, ha? Yaudah sana!... Eh jangan deh jangan. selesein dulu ya bacanya sampe bawah haha. Nah, iya, kita juga malem mingguan dong.. Makan nasi goreng pinggir jalan, gue makan nasi, dia makan juga... gorengan tapinya, cireng lagi, pake sambel belibis biar tambah hot. Apaan, lagi ini.
 
Satu hal yang paling susah dilupain, setiap mau makan kita gak pernah lupa berdoa. Beneran deh, gue lipet tangan dan tutup mata, dia menadahkan tangan sambil berucap doanya. Gue bahagia punya doi, sosok yang tau agama walau gak agamis. Mungkin bakal bahagialah gue, kalo dia jadi suami gue. Penyabar, ngemong gue dengan dewasanya, dan selalu punya alasan buat gue berenti ngambekin dia. Ah.. Sambil nangis nih ngingetnya. Sepik.
 
Sering banget kita ngomongin mau kemana arah hubungan kita. Dia bilang, kalo emang gue mau, ya kita berjuang sama-sama. Masalahnya, "untuk memperjuangkan sesuatu, harus ada yang dikorbankan", dan taruhannya, selain sudah pasti Iman terhadap Tuhan, keluarga adalah hal terpenting dalam hidup yang tak mungkin untuk dilepaskan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Pembahasan yang sangat rumit ini gak lagi menemukan jalan keluarnya. Sekali lagi, karena hal yang katanya cinta.
 
Well... Pada akhirnya kita berpisah juga. Gue gak bisa ngelepas keluarga gue, dan terutama jelas, gak mungkin sanggup gue menghianati Iman yang sudah gue yakini.
 
Akan menjadi konflik jika agama tak sejalan. Padahal, iman mencari jalannya sendiri menuju yang diyakininya Tuhan.
 
Kolot emang, ya tapi emang gak akan ada penyelesaian dari masalah Cinta tapi Beda ini. Saran gue sih, ya usahakan jangan sampe jatuh cinta sama orang yang beda keyakinan dengan kita. Karena gak akan ada akhirnya, malah nanti lo cuma buang-buang waktu memperjuangkan hal yang masih di awang-awang juntrungannya.
 
Atau kalo emang udah kepalang tanggung, ya balik lagi ke Tuhan. Berdoa! (menurut keyakinan masing-masing ya. Berdoa... dimulai!) Inget, sebesar apapun masalah lo, jangan kebanyakan nuntut, lo cuma pantes berdoa dan mensyukuri sesuatu, begitupun dengan meminta, tapi jangan sekali-sekali Menuntut! Gue ngomong gini bukan, mau nasehatin. Tapi sama-sama ngingetin. Cailah. Sedap...
 
Yaudahlah.. Mungkin itu yang bisa gue share untuk sekarang, nanti kalo ada yang punya masukan soal permasalahan ini, bisa hubungin gue. Siapa tau bisa japrian, ya... siapa tau kita jodoh, kan? Jangan buru-buru bilang enggak. Gak ada yang tau maksud Tuhan. Hahaha *ceritanya maksa*

Jadi daritadi ngebacot soal ini, gak ada solusinya, Pas?!! Lah, siapa yang janji ngasih solusi? Bahaha. Bye, dude!

......
Jangan nyureng gitu ah, mukanya~~

-Bintang, Senja-

Sabtu, 05 April 2014

Janji mu, tertelan Dunia.

Saat matahari mulai menenggelamkan sinarnya pada keindahan langit di ufuk barat, kita selalu duduk termangu di bawahnya. Memandangi redupnya, sampai benar-benar tersapu bersih tak tersisa. Dengan senyum dan senda tawa, kita terus menikmati keindahan alam yang dunia suguhkan. Seperti hanya kita makhluk yang sengaja Tuhan ciptakan.

"Jangan senyum-senyum terus, jadi kayak orang stres, kamu." Ledek mu, jahil.

"Ih, apasih. Iseng, deh." Jawabku sambil menutupi wajah yang mulai memerah karena malunya.

Berebah pada rumput hijau dengan pancar merah jingga oleh sinar surya, kita bergenggam tangan. Jemari mu terselip erat pada selah jemari ku. Lagi-lagi senyum menghiasi, kali ini tanpa ledekan usil tentunya.

"Kelak nanti, bukan hanya jemari yang akan bergenggaman.." Ucapmu pelan.

Seketika aku terdiam. Ku pandang wajah mu yang begitu seriusnya berucap, tapi tetap dengan raut yang sama.

Oh Tuhan.. Hangatnya senyum itu.

"Pada senja yang lain, akan ku peluk engkau di tempat ini. Mengikat mu dengan lingkar cincin yang juga akan menemani langkah mu." Lanjut mu.

Aku terkekeh. Dengan air mata yang mulai mengembang, ku terduduk memeluk lutut.

"Loh, kenapa? Kamu nangis? Aku salah ngomong, ya?" Tanyamu heran.

"A-ah enggak tuh.... Enggak salah kok." Ku usap air mata yang hampir jatuh dari kelopaknya.

"Hahahaha.. Coba mana sini, liat muka cemberutnya." Ledekmu sambil mengangkat daguku.

Kita terus larut dalam senda gurau, yang begitu membunuh waktu. Berguling di gundukan tanah serasa kasur empuk dengan rumput tebal sebagai selimutnya. Tak terasa, hari mulai gelap. Bulan dan bintang mulai bertaburan pada bayang-bayang lekuk tebuh dua insan yang saling mencinta; kita.

"Eh, maksud omonganmu tadi apa?" Kali ini aku yang bertanya.

"Ah.. Omongan yang mana?" Jawabmu, gurau.

"Jangan pura-pura gitu, ah...." Sahutku manja, sembari mengernyitkan dahi.

"Hahahaha" Tawamu keras yang kemudian hilang, lalu suasana kembali hening.

Kau duduk tepat di hadapanku. Bola mata yang terus berpandangan, seakan bercerita betapa kita begitu saling mengisi, satu-sama lain. Lewat bola mata itu pula, ku lihat masa depan ku, begitu tergaris dengan nyatanya.

"Iya, jari ini gak akan cukup menemani langkahmu untuk hari yang akan datang. Maka, aku berjanji akan menggantikannya, dengan lingkar cincin yang terus mengikat mu, kemanapun langkah kakimu berderap." Jelasmu.

"Loh, kenapa begitu?" Ujarku kemudian.

"Karena, tidak ada yang abadi di dunia fana ini, kan? ---

---------------

Dan benarlah, memang tidak ada yang abadi. Kecelakaan naas yang merenggut nafas mu malam itu. Sesaat setelah kau ucapkan kalimat yang kemungkinan adalah doa, kau tinggalkan aku sendiri di tempat ini, di bumi ini, sepi...

Jika saja aku tahu , kalimat itu adalah salam mu, untuk mengucap pisah padaku,
Tak kan mungkin ku biarkan, kau mengatakannya.
Kini sesal dengan berjuta rindu, terus menumpuk dalam benakku,
Berharap Tuhan menarik kembali takdir-Nya.

Dunia yang kau berikan,
Begitu tega kau hempaskan.
Janjimu yang kau limpahkan,
Merana aku mengharapkan.

Bukankah kau berkata,
Untuk memeluk ku di tempat ini.
Bukankah kau juga yang berkata,
Untuk melingkar cincin di jemari ni.

Kini, aku memeluk tubuhku sendiri.
Mengenggam tanganku sendiri.

Di kolong langit,
Tempat kita memandangi indah lukis dunia.
Tempat kita bercinta bersama langitnya.
Tempat kita tertawa dalam bahagia.

-Bintang, Senja-

Jumat, 04 April 2014

Sahabat, bukan?

"Semua orang pasti pernah atau bahkan sampai sekarang punya teman atau sahabat atau apalah semacamnya, dan atau bahkan ada yang hanya mengaku-ngaku memilikinya."
 
Kenapa gue bilang cuma ngaku-ngaku punya? Karena, banyak di antara kita yang mengaku bersahabat tapi tidak berlaku layaknya sahabat. Malah ada yang dengan lebay-nya bilang "Dia tuh soulmate gue", karena ngerasa punya banyak kesamaan, misalnya suka makanan yang sama, suka bioskopan, suka ngoleksi aseksoris dan mantan yang samaan, plus sama-sama suka ngerebut pacar orang. Becanda.... tapi, apa ada yang ngerasa?

Gue pribadi, sih belom bisa definisiin arti sahabat itu sendiri. Gue punya beberapa temen deket, deket banget-banget-banget malah. Kita sering ketemu dan ngabisin waktu bareng-bareng, nonton, dvd-an, karokean, ngecengin orang, gosipin orang, dll, dll-lah... Tapi, gue belom bisa bilang itu sahabat gue. Abis banyak orang bilang, sahabat itu ya yang ngerti dan ikutin mau lo. Ah temen-temen gue gak gitu, kita malah sering banget ngeributin hal-hal yang gak penting buat diributin. Misalnya, makan apaan hari ini. Yaelah... Kayak saudara seperguruan aja, ya. Yang kalo pagi ada kakak tertua nanya mau makan apa tiap harinya, terus adik-adiknya berebutan biar usulnya diterima. Apaan, sih.

Menurut gue, lo gak perlu ngelabelin status pertemanan lo dengan kata Sahabat biar keliatan keren di mata orang lain, atau biar bisa dipamer-pamerin ke temen lo yang lain. Buat apaan juga, kalo ternyata elo gak pernah ada buat dia waktu dia susah atau bahkan temen lo curhat soal masalahnya aja lo gak peduli, padahal cuma buat jadi pendengar doang. Ngedengerin curhat temen itu bukan cuma duduk di sampingnya dan buka telinga lebar-lebar, ya.. tapi beneran fokus dengerin. Percuma badan lo ada disitu tapi pikiran lo melayang-layang entah dimana. Kebaca banget tuh isi otak orang yang macem gitu; "Ini orang bacot banget, sik", alah. BASI. Makanya mendingan gak usah sok sahabatan kalo hal kecil kayak gitu aja masih susah ditemuin dalam persahabatan lo. Jadi, kita sepakat ya gak ada sahabat, cuma temen.. temen deket.

Sekarang, temen yang baik tuh yang gimana, sik?
Ini menurut gue, ya.. semua orang bebas berpendapat soal kriteria temen yang menurut dia baik. Tapi kita sama-sama setuju dong ya gak suka sama orang munafik? Ya, pasti iya.

Temen baik menurut gue, dia yang ada waktu lo susah dan seneng (biasa banget, ya), terus dia yang rela nangis buat sedihnya elo (biasa lagi), tapi yang paling penting adalah dia yang berani marahain lo waktu lo salah. Bukan dia yang sok baik dan sependapat sama lo padahal di belakang malah nyinyir gak jelas.
Kalo lo ngaku lo temen yang baik dan peduli sama temen lo, harusnya lo mau yang terbaik buat dia dan pertemanan lo. Berani bilang salah walaupun susah bilangnya. Dan lo yang salah harus mau juga dibilangin. Jangan tambeng jadi orang.
 
Masalah di terima atau enggaknya saran lo, itu tergantung bagaimana cara lo berteman. Harusnya kalo lo udah nganggep seseorang itu temen baik lo, lo udah saling terbuka buat semua hal. Termasuk saling kasih saran-saran yang sebenernya baik tapi rada nyes kalo didenger. Lebih enak dibilang, "Baju lo gak cocok tuh" atau "make up lo kemenoran noh", daripada dibilang "lo cantik banget hari ini", tapi dia malu jalan sama lo. Kan kampret.

Jadi, gak usah sok-sok merasa punya temen deket kalo masih suka bohong sama dia yang lo anggep temen itu. Palsu itu, eh. Enakan yang aslilah, ya. Apasih. Rada sulit dicerna ya omongan gue kali ini? *emang yang sebelumnya bisa dicerna, Fas-_-* ah biarin. Udah, ya. Bye.

-Bintang, Senja-

Rabu, 02 April 2014

Malaikat kecil.

Menahan malu..
Hampir saja air mata, ku teteskan di angkutan umum, saat perjalanan pulang menuju rumah.
Bukan.. Kali ini bukan karena cinta.
Bukan juga karena lelah, sehari penuh menuntut ilmu.

Sesosok bocah kecil berusia lima, melangkah kaki kedalam angkutan yang juga ku tumpangi.
Dengan mata sayu dan tubuh mungilnya yang melunglai
Di petiknya gitar dan mulai dia bernyanyi.
Terkantuk-kantuk, ia bergelayut di muka pintu menahan imbang badannya,
Sesekali hampir ia menutup mata pertanda lelah tubuhnya
Tapi, semangat mencari masih tersirat lewat senyumnya
Walau sangatlah tidak pantas diterimanya.

Lagu yang juga menyiratkan.
Betapa pedih hidup yang dijalaninya,
Betapa bosan ia melakukannya.
Betapa rindu akan waktu bermainnya.
Miris rasanya..

Entah dimana orang tuanya.
Tegakah mereka membiarkan buah hatinya
Apa? Apa yang ada di fikiran orang tuanya?

Langit malam beserta jalan bebatuan seakan telah menjadi kawannya.
Lampu kota dan desir angin seakan akrab dengan senyumnya.
Bukan.. Bukan dia tidak tahu akan bahaya yg menantinya.
Tapi bisa apa?
Ini hidup yang mau tidak mau dijalaninya.

Lembar demi lembar..
Koin demi koin, iya kumpulkan dengan bahagianya
Kaki kemudian kembali berderap menapaki jalan selanjutnya
Seperti dirumah ada yang menantinya.
Segera ia berlari dengan riangnya.

Adik ku..
Tuhan bersama mu.

-Bintang, Senja-