Kamis, 24 April 2014

Terlalu Cepat Aku Mengartikan Cinta.

Sudah beberapa kali kita bersua dalam kerumunan pagi di halte ini. Kamu, berseragam sama dengan yang aku pakai. Kalau memang kita begitu dekat, mengapa kamu tidak pernah melihat tatap mata ku?

-----

"Perasaan belakangan ini, girang banget, Dil?" Sambil mengunyah permen karet, perempuan batak ini bertanya pada ku. Sonya namanya.

"He? Enggak, kok. Perasan mu aja kali." Jawabku seadanya.

"Ih, enggak kok... Ivy juga ngerasa. Ya kan, Vy?" Senggolnya kepada Ivy.

"Ah... Iya, Dil. Belakangan kamu suka senyum-senyum sendiri tiap pagi." Seru Ivy membenarkan.

"Enggak... Kalian terlalu perasaan, hehehe." Acuh ku beranjak pergi.

Begitu besar pesona yang kau tanamkan. Hingga sekitarpun dapat membaca hati dan perasaan. Cinta monyet katanya.

-----

Ini pagi ke-7 kita bertemu. Rasanya aku gemas ingin memulai pertemanan. "Ah.. Tidak juga. Mungkin aku ingin lebih." Tapi, bagaimana caranya?

"Aduh.. Bisnya manaaaaa!" Gumamku kesal, dengan kedua tangan penuh tentengan.

Lagi, ku sempatkan melihat kamu; besandar pada tiang penyanggah halte di sisi lain. Dengan santai, berikut earphone, sweater rajut warna coklat muda, kau tersenyum penuh arti.

"Aduh-duh.. Pelan-pelan dong!" Agak emosi aku berujar, si bapak muda berusaha menyerobot langkah ku menaiki bis merah ini.

"Awas-awas." Dengan ketus bapak itu menjawab.

Semua barang bawaanku terjatuh. Dengan paniknya, aku berusaha merapihkan..

"Yaampun! Tunggu pak, tunggu." Ku rapihkan satu persatu bawaanku, sambil berteriak pada supir bis.

Sayang, nampaknya penumpang lain meminta si supir untuk cepat melaju.

"Loh-loh! Pak, tunggu dong! Pak!!" Ku coba berlari mengejarnya.

---

"Percuma, dikejar juga." ---

(He? Siapa yang sedang bicara sama aku? Jangan-jangan dia penjahat yang mau hipnotis aku lalu ambil barang-barang aku, lalu...............!)

"Eh, itu kertasnya penting gak?" Ucap-dia.

"I.... iya." Masih membelakangi-dia.

"Ya.. mendingan diambil, tuh. Sebelum kebawa angin." Lanjutnya.

"Waaaa. Tugaskuuuuu." Segera aku merapihkannya.

Secepat kilat aku menjangkau kertas-kertas tugasku yang penuh dengan angka dan rumus-rumus. Setelah rapih, ku pandang dia yang sedari tadi berbicara padaku. Ternyata..... itu-dia.

(Hih! Mimpi apa aku!!! Dil, itu-dia! Dia yang selama ini kamu perhatiin!)

Tawanya yang renyah seketika menyadarkan ku dari lamunan.

"Hahaha.. Mukamu panik banget." Sepertinya ia membuka pembicaraan.

Aku mematung.

"Udahlah, udah gak mungkin kekejar bisnya. Itu juga bis terakhir." Bicaranya seperti petir yang menyambar mukaku.

"Ha?!!! Yang terakhir?! Yang bener aja! Lalu aku gimana...." Hampir menangis aku bercerita, yang sebenarnya tidak tahu juga siapa yang peduli.

"Yap. Haha santai aja, sih. Anak Nusantara juga, ya?" Dia bertanya padaku? Padaku.

"Ho'oh.." Jawabku singkat, karena sedihnya.

"Gausah nyureng gitu.. Takut bolos?" Tanyanya lagi.

"Bukan...... Aku mau kumpulin tugas." Aku cemberut.

"Yakan, bukan mau mu juga kayak gini." Sambil memainkan handphone-nya.

(Bener juga, sih. Ini kan bukan mau aku. Bukan salah aku.. Lagian mungkin ini cara Tuhan biar aku bisa ngobrol sama orang ini. Hehehe)

"Kakak, anak Nusantara juga?" Pertanyaan yang sudah aku tahu pasti jawabannya. Bagaimana tidak, dia memakai seragam yang sama dengan yang aku pakai.

"Iya. Basa-basi banget pertanyaannya." Jawabannya membuat ku skakmat.

"Hooo..." Entah, apa kata yang pas untuk melanjutkan pembicaraan ini.

"Gue, Arka. Kelas 12. Lo?" Dengan manis dia berucap sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.

"Eh-- aku Dila, kak. Kelas 10. Hehe." Jawaban singkat, yang sengaja aku lontarkan. Agar terkesan pemalu. Ku raih jabat tangannya.

"Oh.. Yaudah mendingan lo pulang. Udah telat juga kalo ke sekolah." Katanya menganjurkan.

"Iya, kayaknya aku emang harus pulang. Eh, tapi.... kakak, gimana?" Tanyaku sok peduli.

"Ha? Gue? Gampanglah. Yaudah gue duluan, ya." Ujarnya seraya meninggalkan ku.

"Hati-hati lo." Ucapnya lagi, menoleh ke arahku seiring kakinya melangkah.

Aku tersenyum..
Ada bahagia yang tak bisa ku sembunyikan.
Bak apel yang mulai ranum,
Pipiku merah merekah kemudian.

-----

Percakapan yang begitu sederhana,
Membawa kesan teramat dalam.
Pada bola mata itu aku terpana,
Membuat ku mengagumi dalam diam.

Dengan bersemangat aku berjalan,
Berharap bertemu dengan sang tuan.
Pagi-pagiku terasa menyenangkan,
Senyumku terus beriringan.

---

Ini pagi di hari Kamis. Langit begitu cerah menghiasi. Semua orang berlalu lalang dihadapanku. Bis-bis bergantian membawa penumpangnya. Loh, kemana dia? Tak terlihat... Sakit? Bolos?

---

Lusa, aku sengaja berangkat lebih awal. Mungkin kemarin aku kesiangan. Maksud hati ingin bertemu tuan. Kembali aku memandang dari kejauhan. Tapi, tak jua kunjung datang.

---

(Apa sih! Kok gak pernah ketemu. Aneh. Aku udah dateng pagi, tapi gak ada. Sengaja lari-lari dari rumah, sarapan di jalan, eh tapi gak ketemu juga.)

Hei! Siluet itu..
Berdiri tegap, dengan tawa begitu lepas.
Memandang ke arah lain, dengan tatap hangat.
Itu-dia..

Berdebar jantungku,
Deras darahku,
Seperti ada rindu yang begitu liar.
Pada kagum yang tak berkesudahan.

--

Tapi..
Kepada siapa, dia tertawa?
Kemana arah pandangannya?
Sepertinya,
Dia begitu mengenalnya.

Berderap kaki ku, berjalan menghampiri mu.
Seperti semangat bercampur khawatir.
Entah, mengapa hati berkecamuk seketika.
Setelah sepertinya, ku lihat wanita menemaninya.

Ini dia...
Hampir terlihat semua.

*DEG*

Langkah berhenti seketika,
Seperti mengenalnya..
Iya, dia-yang-bersamanya.

---

Untung saja bis merah 'kita' datang, kalau tidak bisa mati aku. Tak percaya dengan yang ku lihat. Berkali-kali aku menegaskan pandanganku. Agar tak salah aku menganggap. Tapi, sungguh.. aku tau itu siapa. Aku tau siapa yang sedang tertawa bersama mu. Aku mengenalnya. (Dia..... Ivy-Teman-Baikku.)

---

Kau gandeng dia-temanku,
Lalu kemudian kalian hilang bersamaan dengan bis melaju.

Petir lalu bersambut dengan kilatnya.
Hujan kemudian turun dengan derasnya.

Aku terduduk, termangu, dan tapi masih tersenyum.
Bibirku kelu, tak ada satu katapun yang mampu terucap.

Terlalu cepatkah aku mengartikan cinta?
Hingga Tuhan menjawabnya dengan cela?

Sumpah!
Aku telah salah jatuh cinta.

Sudah!
Biarkan aku menangis dalam tawa.

Kali ini, aku menertawakan kebodohan ku sendiri.

-----

"Perlahan aksara cintaku tersapu oleh air mata syahdu. Tidakkah engkau memahami hatiku, seperti bianglala beradu?"

-Bintang, Senja-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar