Rabu, 02 April 2014

Malaikat kecil.

Menahan malu..
Hampir saja air mata, ku teteskan di angkutan umum, saat perjalanan pulang menuju rumah.
Bukan.. Kali ini bukan karena cinta.
Bukan juga karena lelah, sehari penuh menuntut ilmu.

Sesosok bocah kecil berusia lima, melangkah kaki kedalam angkutan yang juga ku tumpangi.
Dengan mata sayu dan tubuh mungilnya yang melunglai
Di petiknya gitar dan mulai dia bernyanyi.
Terkantuk-kantuk, ia bergelayut di muka pintu menahan imbang badannya,
Sesekali hampir ia menutup mata pertanda lelah tubuhnya
Tapi, semangat mencari masih tersirat lewat senyumnya
Walau sangatlah tidak pantas diterimanya.

Lagu yang juga menyiratkan.
Betapa pedih hidup yang dijalaninya,
Betapa bosan ia melakukannya.
Betapa rindu akan waktu bermainnya.
Miris rasanya..

Entah dimana orang tuanya.
Tegakah mereka membiarkan buah hatinya
Apa? Apa yang ada di fikiran orang tuanya?

Langit malam beserta jalan bebatuan seakan telah menjadi kawannya.
Lampu kota dan desir angin seakan akrab dengan senyumnya.
Bukan.. Bukan dia tidak tahu akan bahaya yg menantinya.
Tapi bisa apa?
Ini hidup yang mau tidak mau dijalaninya.

Lembar demi lembar..
Koin demi koin, iya kumpulkan dengan bahagianya
Kaki kemudian kembali berderap menapaki jalan selanjutnya
Seperti dirumah ada yang menantinya.
Segera ia berlari dengan riangnya.

Adik ku..
Tuhan bersama mu.

-Bintang, Senja-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar