Kamis, 12 Februari 2015

Bagaimana Kabarmu, Pa?

Pagiku memandang pada selembar foto, bergambar dirimu. Lalu mendengar lagu kesukaan yang sering kita nyanyikan, Pa. "Inang Ni Gellengku". Ingat? Kau pernah bilang, lagu ini bercerita akan kecintaan dan rasa syukur seorang suami pada isterinya. Dan rasa bersalahnya karena sempat mengecewakan isteri tercintanya. Karena itu, saya semakin mencintai isterimu, Pa. Agar ia tak merasa kehilangan cintanya yang daripada engkau. Walau memang mungkin, cinta saya terhadap Mama, tak sebesar cintamu padanya.

Ah, ya.. sekarang ini saya mampu melakukan hal-hal yang biasanya kau lakukan. Memalu paku untuk keperluan berapa hal misalnya. Habis, Natan masih terlalu kecil untuk melakukannya. (Dan juga... dia makin berani melawan saya, Pa. Tapi, tenang... akan kupukul dia sesekali. Ah, tapi tidak juga deh. Tak lagi ada yang membelanya jika saja kumarahi--engkau)

Berbahagialah, Pa. Saya mencintai anda yang begitu mencintai Ibu yang telah melahirkan saya. Yang juga sempat mendidik dengan luar biasa seorang adik laki-laki untuk menjaga saya dan mama kelak.

Oh.. bagaimanakah bentuk surga? Indah bukan? Kalau benar adanya, titip salam pada Ia, ya, Pa.. agar menyiapkan satu tempat untuk saya, Mama, dan Natan. Sampai jumpa lagi.

-Margareth Lumbanraja, Februari 2015.-

Selasa, 03 Februari 2015

Untuk Seniorku di Kelas Paduan Suara

Mungkin, saya adalah perempuan dengan seribu ruang di hati.
Ataukah.. penikmat luka yang sejati?

Orang bilang, nyaman saja tidak cukup untuk mempercayai hati kita jatuh pada siapa.
Benar, buktinya.. hati saya pernah jatuh pada anda.

**

Apa kabar, Kak Jev?
Dan, bagaimana kabar hubunganmu dengan... kekasihmu?
Kuharap baik saja, ya.. manis romantis seperti teh tarik yang baru saja habis kusesap.
Kelihatannya, kalian begitu serasi.
Semoga, tak hanya sekadar yang kulihat. ^^

Kak, ingatkah engkau pada sore di mana, kau tergesa menemuiku di aula gereja?
Waktu itu, adalah jadwal rutin kita berlatih paduan suara.
Masih dengan seragam basket andalan sekolahmu dulu, kau hampiri aku yang sedang kewalahan dengan nada minor yang baru kita dapat dari pelatih saat itu.
Kau bercerita tentang hubungan asmaramu, yang baru saja kau jalani dalam hitungan minggu. Kalau tidak salah, ia juniormu di sekolah, ya?

Memang itu bukan kali pertama, kau bercerita soal pacarmu.
Tapi, sore itu berbeda, Kak.
Kegirangan kau peluk aku sangat kuat, yang kalau dipikir-pikir, hampir habis napasku lantaran kau cengkram dengan tanganmu itu. Hehehe.
Mungkin, 10 menit lebih kurang kudengar kau bercerita masih dalam pelukanmu.

Kau bilang, perempuan itu sudah lama kau taksir.
Kau bilang, rambutnya panjang, lurus, sepundak.
Kau bilang, putih kulitnya bak pualam.
Kau bilang, kau sungguh-sungguh menyukainya.
Aku? Bahagia melihat binar matamu bercerita kesenangan, Kak.

Karena, sepanjang kau bercerita aku banyak diam walau sesekali tertawa, akhirnya perlahan kau renggangkan pelukanmu.
Katamu, "Maaf, aku cerewet, ya?"
Hahaha. Dari air mukamu, sepertinya baru saja aku menangkapmu tersipu.
Namun, tak mampu kujawab lagi pertanyaan itu.
Sejenak, hening. Saat persis kumandang Adzan dari Masjid yang tak jauh dari Gereja kita terdengar-Aku selalu mengagumi lokasi Gereja kita dan Masjid ini, Kak.. rasanya damai, ya, melihat beda dapat berjalan senada. Dengan caranya masing-masing tentunya-lalu canggung yang kemudian kita dapati.

** Eh, sebelumnya sampaikan maafku pada kekasihmu saat ini ya, Kak. Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian dengan cerita-cerita mantan pacarmu dulu. **

Setelah sore itu, tak pernah lagi ada saat di mana kau bercerita soal pacarmu atau perempuan lain atau latihan basketmu yang melelahkan atau... semuanya.
Kenapa, Kak?
Dengar-dengar dari teman yang lain, kau takut aku marah.
Hahaha. Entahlah, Kak. Tapi, serius.. tak pernah ada sesalku berada dalam pelukmu sore itu.

Hari demi hari, terus seperti itu.
Sampai kita benar-benar lupa untuk saling menyapa.

Yang mau kusampaikan dalam surat ini sederhana.
Mmm..
Perempuan memang sulit ditebak, Kak.
Kami akan mengoceh tak ada habisnya untuk hal yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.
Dan, akan diam seribu bahasa, walau batu besar sedang menghadang.
Begitu menyebalkan..
Tapi, tenang..
Kau hanya perlu menelaah lebih dalam.
Dan jangan pernah diam hanya karena kau pikir dengan begitu masalah akan menghilang. (Setidaknya, itu yang harus kau lakukan dulu padaku, Kak. Harusnya kau bertanya, supaya tak sesat di jalan. Hehehe. Bercanda.)

Sekarang ini, aku tak lagi berharap untuk dapat lagi mendengar ceritamu, Kak.
Teruslah matamu berbinar seperti itu, maka aku yakin kau baik-baik saja.
Berbahagialah terus (walau) dengan kekasihmu sekarang.
Ohya, sampaikan juga salamku padanya.
Bilang, aku rindu bercerita tentang laki-laki yang aku suka padanya, menerima semangatnya untuk meyakinkan bahwa lelaki itu juga menyukaiku.
Sampai pada akhirnya kutahu, dia malah berpacaran dengan lelaki itu. Hehehe. Ah, tapi sudahlah.

Jaga kesehatanmu ya! Sayonara~

**

-Bintang, Senja-

Masihkah Kita 'Berkawan'?

Setelah malam keberangkatanmu, rasanya ada yang aneh. Aku seperti kehilangan. Setelah 7 tahun tak pernah kita bertemu, saat ini harus lagi kita jauh. Bandung-Jakarta, kau bilang itu bukan apa-apa. Tapi, bagiku.. seperti ada yang kurang. Ini salah.

Esoknya dan sampai pada siang ini, selalu:
Kau buka pagiku dengan suara mengandung senyum di ujung telepon, membuat jantungku meloncat kegirangan.
Kau ingatkan aku untuk tidak lupa makan, jangan banyak main karena di luar hujan, serta memintaku memberimu kabar.
Kau kirim aku, lagu cinta dengan petikan gitar yang kau mainkan.

Lantas, naifkah kita jika menganggap semua ini hanya cara dua manusia, yang berteman akrab untuk menjalin kembali persahabatan yang pernah hilang?

---

Halo, dear!

Bagaimana langit Bandung siang ini?
Cerahkah?
Tempatku mendung. Ah.. dia tahu hatiku kelabu, rupanya. ^^
Bukan.. ini bukan soal mantan pacar yang tempo hari kuceritakan. Ini tentang kamu.
Benar.. ya.. bagaimana mungkin aku tidak termangu mendapati pertemuan intens kita, di Januari yang sudah habis itu?

Sungguh, kamu benar sudah berubah.
Tidak lagi, bocah lelaki cengeng dengan mulut ember yang gemar mengadu pada guru kalau-kalau ada teman yang menjahilimu.
Skinny jeans hitam dengan ikat pinggang kulit, lalu kemeja putih membalut badan, yang omong-omong sejak kapan kau giat berolahraga, sehingga punya banyak kotak di dadamu dan lengan-lengan keras yang menyebalkan itu? Tahu tidak? Rasanya ingin kupeluk badan itu kuat-kuat dan tidak sedetikpun ingin kulepas. Lalu, parfume yang bercampur dengan keringatmu itu justru menimbulkan aroma maskulin pria dewasa yang kemudian menghujam gairahku dengan ganas.

Ck.. jangan dulu menyeringai puas.
Kamu tidak sepenuhnya menang.
Benar memang banyak yang berubah tapi, tidak dengan mulut embermu --"
Masih saja kamu gemar meledekku dengan beberapa nama teman yang terlibat cinta monyet denganku dulu. Itu kan, ketololan masa kanak-kanak yang tak seharusnya terus diingat. Ya, maksudku, apa tidak ada lagi kenangan yang lebih menyenangkan untuk diceritakan pada pertemuan guna melepas kerinduan? Hah?

Tapi, entah mengapa, aku masih bisa tertawa pada banyolanmu yang membuat jengkel hati itu. Kurasa aku terlalu rindu kamu. Sampai sampai, apapun yang kiranya hendak kau lakukan, terserah saja. Asal jangan dulu pergi cepat-cepat. Ah, itu hanya inginku yang terlalu egois, kan? Lagi pula, apa pedulimu?

Saat ini, kita sudah kembali pada rutinitas masing-masing.
Aku sih, masih libur semester. Satu bulan lagi. Bosan.
Sementara kamu, kembali ke kota tempatmu menuntut ilmu. Eh, bagaimana seleksi vocal hari ini? Lolos? Kabari aku secepatnya, ya? (Ya.. kalau nanti Tuhan mengijinkan kamu membaca suratku untukmu ini. Hehe)

Dear,
Masihkah kita 'berkawan' seperti dulu?
Ataukah.. kau rasa juga keanehan yang kurasa?

Aku hanya berharap kita tidak terlalu bodoh, untuk memenjara rasa dalam ikatan yang tidak kita harapkan.

Tapi, kalaupun ya, perasaanku salah. Biar kelak aku dan kamu terus bersama sebagai sahabat. Seperti, janji kita dulu; kamu juga akan bersahabat dengan suamiku, pun aku dengan isterimu, dan anak-anak kita. Hahaha. Konyol sekali, ya.

Sudahlah, jaga kesehatanmu.
Sampai jumpa liburan semester depan!
(Kuharap kamu bawa jawaban yang melegakan dari pertanyaan yang memenuhi kepalaku sekarang.)

-Bintang, Senja-