Saat matahari mulai menenggelamkan sinarnya pada keindahan langit di ufuk barat, kita selalu duduk termangu di bawahnya. Memandangi redupnya, sampai benar-benar tersapu bersih tak tersisa. Dengan senyum dan senda tawa, kita terus menikmati keindahan alam yang dunia suguhkan. Seperti hanya kita makhluk yang sengaja Tuhan ciptakan.
"Jangan senyum-senyum terus, jadi kayak orang stres, kamu." Ledek mu, jahil.
"Ih, apasih. Iseng, deh." Jawabku sambil menutupi wajah yang mulai memerah karena malunya.
Berebah pada rumput hijau dengan pancar merah jingga oleh sinar surya, kita bergenggam tangan. Jemari mu terselip erat pada selah jemari ku. Lagi-lagi senyum menghiasi, kali ini tanpa ledekan usil tentunya.
"Kelak nanti, bukan hanya jemari yang akan bergenggaman.." Ucapmu pelan.
Seketika aku terdiam. Ku pandang wajah mu yang begitu seriusnya berucap, tapi tetap dengan raut yang sama.
Oh Tuhan.. Hangatnya senyum itu.
"Pada senja yang lain, akan ku peluk engkau di tempat ini. Mengikat mu dengan lingkar cincin yang juga akan menemani langkah mu." Lanjut mu.
Aku terkekeh. Dengan air mata yang mulai mengembang, ku terduduk memeluk lutut.
"Loh, kenapa? Kamu nangis? Aku salah ngomong, ya?" Tanyamu heran.
"A-ah enggak tuh.... Enggak salah kok." Ku usap air mata yang hampir jatuh dari kelopaknya.
"Hahahaha.. Coba mana sini, liat muka cemberutnya." Ledekmu sambil mengangkat daguku.
Kita terus larut dalam senda gurau, yang begitu membunuh waktu. Berguling di gundukan tanah serasa kasur empuk dengan rumput tebal sebagai selimutnya. Tak terasa, hari mulai gelap. Bulan dan bintang mulai bertaburan pada bayang-bayang lekuk tebuh dua insan yang saling mencinta; kita.
"Eh, maksud omonganmu tadi apa?" Kali ini aku yang bertanya.
"Ah.. Omongan yang mana?" Jawabmu, gurau.
"Jangan pura-pura gitu, ah...." Sahutku manja, sembari mengernyitkan dahi.
"Hahahaha" Tawamu keras yang kemudian hilang, lalu suasana kembali hening.
Kau duduk tepat di hadapanku. Bola mata yang terus berpandangan, seakan bercerita betapa kita begitu saling mengisi, satu-sama lain. Lewat bola mata itu pula, ku lihat masa depan ku, begitu tergaris dengan nyatanya.
"Iya, jari ini gak akan cukup menemani langkahmu untuk hari yang akan datang. Maka, aku berjanji akan menggantikannya, dengan lingkar cincin yang terus mengikat mu, kemanapun langkah kakimu berderap." Jelasmu.
"Loh, kenapa begitu?" Ujarku kemudian.
"Karena, tidak ada yang abadi di dunia fana ini, kan? ---
---------------
Dan benarlah, memang tidak ada yang abadi. Kecelakaan naas yang merenggut nafas mu malam itu. Sesaat setelah kau ucapkan kalimat yang kemungkinan adalah doa, kau tinggalkan aku sendiri di tempat ini, di bumi ini, sepi...
Jika saja aku tahu , kalimat itu adalah salam mu, untuk mengucap pisah padaku,
Tak kan mungkin ku biarkan, kau mengatakannya.
Kini sesal dengan berjuta rindu, terus menumpuk dalam benakku,
Berharap Tuhan menarik kembali takdir-Nya.
Dunia yang kau berikan,
Begitu tega kau hempaskan.
Janjimu yang kau limpahkan,
Merana aku mengharapkan.
Bukankah kau berkata,
Untuk memeluk ku di tempat ini.
Bukankah kau juga yang berkata,
Untuk melingkar cincin di jemari ni.
Kini, aku memeluk tubuhku sendiri.
Mengenggam tanganku sendiri.
Di kolong langit,
Tempat kita memandangi indah lukis dunia.
Tempat kita bercinta bersama langitnya.
Tempat kita tertawa dalam bahagia.
-Bintang, Senja-
faaaaas izin share yaa
BalasHapushehehe
Boleh banget, Bel!! Hehehe
BalasHapusGila keren paraaaah #kepogaksengaja wkwkwk
BalasHapusWaaa.. Uhuk-uhuk:o jadi malu, Lannnn. Hehehe #PadahalSeneng
BalasHapus