Rabu, 19 November 2014

Dalam Diam yang Sempurna

Ramai, riuh..
Tawa berjatuhan di sana-sini.
Kasak-kusuk anak muda, malam Minggu..
Membawa kabar burung dengan berani.

Langit, mulai merintih.
Sepersatu bulir gerimispun jatuh.
Tatkala gigil kudapati.
Saat semilir, menyentuh tubuh.

Selalu banyak cara, untuk mengingatmu.
Pun begitu saat ini.
Selalu banyak tempat, untuk mengingatmu.
Di tengah tanah lapang, dengan rinai hujan.
Selalu banyak waktu, untuk mengingatmu.
Tak peduli, walau purnama kian meninggi.

Lantas,
Wajahku menghadap langit.
Membiarkan tulang pipi terbasahi.
Ah! Aku terperanjat lagi.
Wajahku memanas,
Sesaat kemudian air hujan--air mata; bercampur syahdu.
Entah, sakit atau bahagia.

Aku jatuh pada senyummu yang telaga.
Pada rona matamu, aku merana.
Bagaimana bisa...
Cintaku terpenjara.
Dalam diam yang sempurna.

-Bintang, Senja-

Kamis, 11 September 2014

Tentang Rindu Yang Kian Usang

"Kita pernah sama-sama mengukir cita dengan cinta. Lalu, mengapakah kini rak bertumpuk cerita, kau biarkan berdebu sia-sia?"

Ada yang hilang dari aku, setelah perpisahan malam itu. Entah, apalagi rencana indah yang sedang Tuhan rancangkan untukku.

Yang aku tahu, aku kehilangan kamu.
Senyum matamu yang teduh.
Aku kehilangan, tawamu yang juga aku.
Aku kehilangan segudang cerita harimu yang keluh.
Kemudian, dengan percakapan diujung telepon, kita mampu mengembalikan peluh menjadi senyum simpul untuk bersyukur.

---

Sungguh, saat ini aku sedang mengingat-ingat tentang kamu.
Tentang lagu yang kau dendangkan, yang jelas lagu itu bercerita tentang kita selalu.

Mungkin,
Tentang hari-hari dimana kau jemput aku di stasiun dengan wajah yang sumringah.

Ah, iya..
Tentang senja yang kita lewati, dengan pelukan serta debar saat bibir bersentuhan.

Atau,
Tentang lampu jalanan ibu kota, yang menyinari setiap siluet tubuh dan roda motor yang berputar, sesaat sebelum kau antar aku pulang.

" Ialah aku; telungkup dalam selimut-selimut wewangi tubuhmu. --- Benar, aku rindu kamu."

---

"Pada malam yang masih panjang, aku menaruh harap pada hati yang acap kali mengubur dan mengenang rasa sayang. Kamu-"

Iya, jujur aku masih-sungguh-mengharapkanmu. Terlalu besar, angan yang kugantungkan pada kamu di masa itu.
Terlalu banyak hal yang rasanya sulit untuk dilupakan.
Terlalu remeh untuk dibiarkan pergi.

"Serupa kusen pada jendela-jendela kamar yang terbias hujan. Begitu, rapuh hati seorang puan menanti kembali cinta sang tuan."

---

Sampai pada akhirnya, dengan tanpa merasa berdosa, kau ungkap dusta yang selama ini kuanggap cinta.

Begini, dalam mencintai tidak ada alasan untuk mencari yang lebih-lebih-lebih dari baik. Itu omong kosong, Al. Tidak akan ada habisnya.

Kecewa yang kudapati, adalah ketika kusadari ada waktu yang terbuang begitu percuma saat-saat dimana sebelumnya kita berbagi rasa. Karena, benar adanya itu hanya bualan semata. --- Aku mencinta sendiri.

Ingin aku menyumpahi kamu dalam doa, tapi apa daya.... aku telah jatuh hati padamu. Sehingga tak sampai hati aku berkata serapah untuk membuatmu celaka.

Rindu kini kian usang. Biarkan ia mati bersama nyeri.

"Tertidurlah, Al. Bangun dan lupalah pada apa yang sudah susah payah kita lewati. Adalah juang upaya merengkuh sayang. Begitu, kan?"


-Bintang, Senja-

Minggu, 03 Agustus 2014

Morning, dude!

Mungkin saya, kamu, dan kita sering kali jatuh untuk mencinta- tapi, sedikit yang kemudian memiliki cintanya, bahkan banyak dari kita yang lantas merasa sakit. Sakit karena urung dicintai balik. Ataupun sakit karena, malah mendapati kehilangan luar biasa dari sosok yang kita cinta.

Namun, hidup terus berjalan. Tak peduli, seberapa koyak hatimu saat ini.

Lalu, apa yang musti dilakukan?
Meratapi takdir cinta yang tak kunjung bahagia? Dengan terus menghitung tiap detik yang terbuang untuk menangisi dia yang tidak sekalipun melihat airmatamu terurai?

---

Begini, jangan berharap orang mengerti bagaimana kita. Tapi, berusahalah mengerti mereka, (siapapun). Karena dengan begitu, kita sudah menjadi lebih dewasa untuk memahami diri sendiri. Sulit memang, memberi tanpa berharap kembali. Namun, percayalah; akan ada bahagia setelah mampu membahagiakan orang lain.

Maka dari itu, "Cintai dirimu terlebih dahulu, sebelum memutuskan memberi hatimu untuk mencintai orang lain."

-Bintang, Senja-

Selasa, 08 Juli 2014

Doaku untuk Gaza.

Tuhan...
Pagi ini aku terbangun,
mendengar kabar yang buatku tertegun.
Di belahan bumi yang lain,
ada mereka, yang entah mengapa hilang nuraninya.
Seperti tidak berdosa,
ditembakinya jiwa-jiwa tak bersalah.

Entah, Tuhan...
Apa yang rusak pada dirinya,
hingga hati tidak lagi bersuara.
Dentuman-dentuman besar memecah kepala,
yang kemudian melayangkan nyawa.

Apa yang sedang kami perebutkan, Tuhan...
Sehingga kami lupa, adalah semua hal di dunia ini kepunyaan-Mu..
Sehingga kami lupa, adalah ayah yang berjuang demi keluarganya..
Sehingga kami lupa, adalah ibu yang menjaga anaknya..
Sehingga kami lupa, adalah bocah yang harusnya bahagia..

Mohon ampun, Tuhan...
Jikalau, kami lupa akan titah-Mu.
Mohon ampun, Tuhan...
Jikalau, kami tidak saling menjaga.
Mohon ampun, Tuhan...
Jikalau, kami dengan sengaja berbuat dosa.

Jagailah mereka, Tuhan...
Mereka yang tidak menginginkan perang.
Mereka yang meregang nyawa menuju tenang.
Mereka, adik-adik kami yang harusnya tidak merasakan.

-Bintang, Senja- [PrayforGaza]

Selasa, 27 Mei 2014

Patricia Unna.

Unna adalah sahabatku, atau anggap saja saudaraku. Iya, sejak lahir Unna sudah tinggal bersama kami. Lantaran ibundanya, bunda Nancy, meninggal di malam saat melahirkan Unna. Bunda Nancy adalah sahabat mama, jadi, mana mungkin mama tega membiarkan putri sahabatnya sendiri terlantar. 19 tahun sudah kami bersama, 19 tahun pula, menjadi saat-saat mencekamkan dalam hidupku. Mengapa? Mari ku ceritakan..

Menurut mama, Unna baik-baik saja, sama seperti anak lainnya, tidak ada yang aneh dengan dia. Tapi, sepengetahuanku, ada hal yang janggal dalam diri Unna.

Kami selalu bermain bersama, congklak, lompat tali, dan lainnya. Apa yang aku punya, pasti dipunyainya, gaun, buku, boneka, bandana, semua dengan model sama, hanya berbeda warna.

Lain daripada aku yang cerewet, Unna begitu pendiam, sikapnya dingin, tanpa gurat bahagia dari wajahnya. Bahkan aku mampu menghitung berapa kali ia melempar senyum dalam 19 tahun ini. Mama dan papa tak pernah menyadarinya, tapi aku? Aku yang tahu percis bagaimana dia.

Seringkali aku memergoki Unna dengan tatapan kosong, melihat keluar jendela dari dalam kamar kami. Benar, aku dan Unna, tidur dalam satu kamar. Maklum, papa hanya pensiunan Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Papa tidak mampu membeli rumah baru yang lebih besar. Rumah ini adalah rumah tua peninggalan kakek. Jauh dari keramaian, dan dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Pendudukpun jarang, banyak yang sudah pindah ke kota besar. Maka, bayangkanlah bagaimana posisiku, melihat gadis berusia 9, menatap kosong keluar jendela (yang sebut saja luar itu, hutan belantara), lalu kemudian mendengar tawa kecilnya sesaat sebelum ruangan menjadi hening di dalam kepalaku. Antara aneh atau...........

Seiring berjalannya waktu, aku terbiasa dengan pemandangan itu.

Sampai pada suatu sore, kira-kira sehabis magrib, aku hendak memanggilnya keluar dari kamar untuk makan malam. Senja itu hari Kamis malam Jum'at, langkahku terhenti di ambang pintu kamar yang tidak tertutup sepenuhnya.

Ku lihat Unna kecil duduk bersila di lantai, rambutnya tak terkepang seperti biasa. Bibir mungilnya komat-kamit seakan berbicara dengan seseorang yang entah siapa. Begitu aku sangat penasaran, maka ku putuskan untuk mencari tahu. Akan ku buktikan pada mama dan papa, tentang keanehan Unna yang selama ini ku ceritakan.

Ku telisik diam-diam, jujur saja ini hanya kesoktahuanku. Sebenarnya aku sudah tak sanggup menahan gemetar. Takut-takut Unna, atau bahkan..... dia yang berbicara dengannya memergoki aku.

Dan benarlah, belum sempat ku raih gagang pintu untuk membukanya lebih lebar, Unna sudah berada tepat dihadapanku. Bola matanya hitam pekat dengan garis kemerahan, rambutnya yang terurai seakan mencekik aku dalam rasa takut yang amat sangat. Sontak aku berteriak, memecah sore itu, aku terlempar kira-kira beberapa jengkal dari bibir pintu. Dan kembali terbangun besok paginya, dengan ngeri yang luar biasa.

Walau sulit melupakannya, aku putuskan untuk tidak mengingatnya.

Hari kembali pulih-walau dalam cemas. Tidak sampai disitu, setelah perayaan ulang tahun kami bersama, yang ke-19, belum lama ini, dan masih terjadi sampai kini, peristiwa aneh datang bertubi-tubi menghampiri kami. Hingga aku sendiripun tak sanggup menyimpulkan apa maksud semua ini. Sungguh, ini aneh tapi nyata. Orang bilang ini mitos, tapi ini terjadi pada kami.

-----

Unna memang cantik, dia pandai membenahi diri, banyak lelaki yang tertarik akan kecantikannya. Selain itu, nilai akademik Unna jauh di atasku. Dia adalah gadis yang pandai. Sayangnya, biarpun banyak lelaki yang mengantre untuk mendapatkan hatinya, Unna tak pernah bertahan lama dalam hubungan percintaannya.

Unna bercerita padaku, bahwa Bunda Nancy sering muncul dalam mimpinya. Seperti memberi peringatan atau semacam kode untuk hal yang Unna sendiri tak mengerti maksudnya.

"Na, kenapa lagi, sih, kamu udahin hubunganmu itu?" Ku buka percakapan seusai mandi sore itu.

"Sepertinya Bunda enggak setuju." Jawabnya singkat.

"Apa sih yang ada di kepalamu itu?! Bunda udah bahagia disana, jangan dikait-kaitkan, gak baik, Na." Jelasku.

"Semalam aku bermimpi, ada di acara pernikahan." Sambil menyisir rambutnya, ia bercerita.

"Pernikahan? Siapa? Dimana tempatnya?" Pertanyaan yang melesat dari mulutku, berharap semua terjawab tanpa terlewat.

"Sepertinya pernikahan... aku.." Diletakkannya sisir pada meja rias, dikepangnya rambutnya, lalu ia melanjutkan ceritanya.

"Aku memakai gaun panjang, dengan mutiara perak sebagai pelengkap. Bisa ku pastikan, itu bukan ditaman, tapi penuh dengan tanaman dan pepohonan. Banyak tamu berdatangan, wajah mereka pucat. Aku tidak melihat kamu, bahkan mama atau papa dalam acara itu. Kemudian, bunda datang menggandeng seorang pria bersamanya." Jelasnya begitu panjang.

"Siapa? Romeo? Claif? Atau....." Ku sebutkan satu persatu mantan kekasihnya.

"Nggak, bukan mereka yang aku kenal. Mukanya buram, tapi dengan sinar tajam. Aku gak bisa menerka siapa dia. Tapi, jelas, raut wajah bunda seakan memaksa aku menikah dengannya. Seram." Begitulah Unna menutup ceritanya.

---

*Glek* seperti ada yang menyangkut di tenggorokan saat mendengar cerita itu. Awalnya ku pikir, ini hanya.. ya, mimpi. Bunga tidur. Tapi, aku terpaksa mempercayai cerita itu, membuang jauh-jauh teori bunga tidur itu. Tat kala, banyak mimpi yang nyata terjadi dalam keseharian Unna.

Setelah keperawanan Unna direnggut oleh laki-laki kurang ajar, yang mengaku mencintai Unna. Mama dan papa hancur. Biar bagaimanapun, Unna sudah menjadi bagian keluarga ini, anak mama dan papaku. Ini adalah cambuk bagi mama dan papa, begitu juga aku. Belakangan aku tahu, semalam sebelum kejadian itu, Unna bermimpi dipatuk ular besar, bunda Nancy ada dalam mimpi itu, tapi tak berbuat apa-apa.

Bukan hanya itu, 3 bulan setelah kejadian itu, aku hampir gila dengan cerita-cerita mimpi Unna, yang menjadi nyata di hadapanku.

Minggu pagi pukul 10, kami semua berkumpul di ruang keluarga. Papa sedang menyemir sepatu kesayangannya, aku sibuk melukis pada kanvasku, sementara mama dan Unna merajut beberapa helai sweater guna untuk dijual kepada tetangga.

----

"Ma, semalam Unna bermimpi, lagi..." Unna bercerita dengan nada yang tak biasa, dia ketakutan.

Astaga... apalagi, sih, yang dimimpikan anak ini!

Mama menghela nafas dan menyambut pernyataan Unna.

"Mimpi apa, sayang?" Wajah mama teduh, walau aku tahu sebenarnya mama takut mendengar mimpi Unna.

"Semalam, Unna mimpi gigi susu Unna tanggal, ma..."

Ya ampun! Awas kalau mimpi gigi ini dikaitkan lagi sama hal aneh, atau soal bundanya. Ku jahit bibirnya nanti.

"Lalu.... bunda datang membawanya lari sambil tertawa-tawa."

----

Emosiku memuncak, ku lemparkan semua kuas yang sedari tadi menari-nari diatas kanvas seakan menahan amarah pada Unna dan leluconnya.

"Stop, Unna, stop! Kamu mau bilang apa lagi? Aku muak sama semua ceritamu? Cukup buat keluarga ini bingung!" Ku pukul meja di hadapan Unna kuat-kuat.

Belum usai amarahku terlontarkan, keanehan kembali terjadi. Papa menatap ke arah lukisanku.

"Kak, (begitu sapaan papa kepadaku), daritadi kamu melukiskan wajah bunda Nancy?" Pertanyaan papa membuat mataku panas dan berair.

----

*Deg* seketika ku dengar suara piano, khas-khas di film horor mengisi daun sampai gendang telingaku hingga mau pecah.

Airmata mengembang pada kelopak yang menunggu jatuh. Aku menahan tangis heran, aku terdiam dalam pangkuan papa, aku tak mampu berkata-kata, sungguh aku tidak berniat menggambarkan paras bunda Nancy di kanvas itu, aku hanya mampu menggambar buah dan pemandangan seperti anak TK pada umumnya, lalu mengapa itu bisa......terjadi......

Lukisan itu seperti menatapiku. Aku takut. Aku menangis sepanjang hari. Pikirku, apa bunda Nancy marah karena anaknya baru saja ku bentak?
Papa berniat membakar lukisan itu, tapi mama melerangnya. Lalu, menyimpannya ke gudang.

----

Keesokan harinya, Senin 12 Maret 1984.

Unna terbaring kaku dan tak lagi membuka matanya. Ia melipat tangan diatas dadanya, dengan senyum begitu cantiknya, rambut kepang dua ciri khasnya mengantar perginya.

Seperti kilat di siang bolong, ini mengejutkanku. Unna tidak sakit, tidak celaka, lalu kenapa dia?

Sungguh Tuhan, ini menyebalkan.

Pertama, aku kehilangan Unna, sahabat sekaligus saudaraku sejak kecil, teman bermainku. Ia pergi tanpa pesan dan salam.
-- Maafkan aku, Unna. Aku menyesal membentakmu kemarin itu.

Kedua, ia meninggalkan sejuta tanya dalam benakku.
-- Apa iya, ini makna dari tanggalnya gigi Unna?

Tapi Tuhan sungguhlah Maha Pemurah, Ia menjawab semua pertanyaanku---- lewat-mimpi.

Aku bermimpi, terperosok ke dalam semak berlubang, tapi tak sakit. Kemudian Unna datang, dengan senyum simpulnyang tak pernah ku lihat semasa hidupnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu aku.

Tepat seminggu setelah kepergian Unna.

19 Maret 1984, hari ini...

Ku lihat, aku terbaring di tengah kerumunan tetangga dan para kerabat. Mama dan papa menangis di atas badanku yang tertidur. Sama seperti Unna, senyum pengantar matiku, tak kalah cantiknya.

----

Mungkin Tuhan tak ingin memisahkan aku dan Unna.
Tuhan tak ingin memisahkan sang sahabat dalam waktu yang lama.
Lalu, kami bergandengan, meninggalkan dunia fana.

-Bintang, Senja-

Kamis, 15 Mei 2014

Beri judul sesuka mu.

Kepada kamu yang sudah lama menghuni hati dan jiwa..
Sudahkah kamu merasakan cinta yang aku punya?

Tapak kaki terus menyusuri pasir putih ini. Sesekali ku tengok laut yang tak berujung. Layaknya cinta kepada mu, mungkin aku sedang mengarunginya demi menemui titik akhir, untuk menyandarkan perahuku di bibir pantai mu. Dan, ya.... tak kunjung ku temui titik itu.
Kalaulah kamu sudah melihat ku dari kejauhan, tak inginkah engkau mengajak aku mampir, hanya untuk menemani mu menikmati langit senja? Walau sebenarnya, aku inginkan lebih.
Itulah sedikit gambaranku tentang; 'aku' dan 'kamu'.

Jika mencintaimu adalah dosa yang sangat besar, maka mungkin ketika mati nanti, Tuhan tak perlu repot menimbang-nimbang amalku.

Entah apa yang merasuki aku. Seperti tidak sadar, aku mencintai mu. Rasa ini tidak hanya sekedar ada, tapi penuh dan menyesakan dada. Bodohnya, aku hanya menyimpannya saja-
~ Bukan tak pernah ku berniat mengatakannya, hanya saja lidah ini kelu tiap kali mencobanya.
~ Bukan karena alasan aku seorang perempuan, hanya saja beraniku belum juga mengungkapkan.

Soal cinta dan airmata, adalah dua hal yang sulit ku pisahkan saat ku biarkan hatiku untuk mengasihimu. Mungkin kamu sudah mengetahuinya, tapi berpura-pura tak melihatnya. Aku juga tak dapat memaksamu untuk mengerti segalanya.

Aku adalah wanita yang memiliki ambisi luar biasa untuk meraih pencapaianku. Tapi tidak tentang kamu. Semangatku seperti luntur terbias hujan. Kata emansipasi seperti tak terbaca oleh mata. Aku seperti gadis pada zaman Siti Nurbaya yang tidak mampu menolak perjodohan. Aku benar-benar lemah.

Andai saja mata dapat berkata, dan hati mampu mengekspresikan cinta. Aku akan memohon kamu untuk duduk di hadapanku, memandangi aku dari kepala hingga kaki untuk sejenak, agar pesan itu tersampaikan.

Jarak bukanlah masalah, tapi ada tembok besar yang memisahkan kita. Ialah, gengsi yang bertumpukan hingga sangat sulit dihancurkan. Aku dengan rasa maluku, kamu dengan ego mempertahankan hal yang kau sebut dengan persahabatan..

Banyak orang bilang, dewasa kini tak perlu kita melabelkan hubungan dengan status berpacaran. Aku sendiri tidak mengerti apa artinya kata itu. Hanya saja wanita butuh kejelasan.
Ada masanya aku akan cemburu;
Jika ada yang memperhatikan mu, selain aku.
Jika ada yang memberi mu semangat, selain aku.
Jika ada yang mencoba mencintai mu, selain aku.
  Dan ketika itu, tak ada hal yang mampu ku lakukan. Karena, aku dan kamu tak pernah menjadi kita.
Aku-tidak-berhak.

Tahukah kamu, menunggu adalah hal yang membosankan. Sekali lagi, ini bukan perkara aku perempuan. Ku rasa sudah berbagai cara aku menunjukan. Lalu, kapan kau sudahi penantian?
Sebelum semua terlambat.

-Bintang, Senja-

Selasa, 06 Mei 2014

Pesan singkat.

Mencintaimu kini sudah menjadi rutinitasku.
Merindumu tidak lagi hal yang tabu bagiku.
Bahkan saat matahari terbit hingga lelap di ambang senja, aku masih juga terjaga.
Hampir tak ada sedetikpun terlewatkan, untuk biarkan rasa ini hilang.

--

Hai, apa kabar?
Lagi-lagi aku menulis soal kamu, soal kesesakanku yang tak kunjung usai.
Saat ini pukul 1 pagi lebih kurang, aku belum juga bergeliat dengan selimut. Lantas aku beranjak, membuat kopi putih guna menemaniku larut dalam kenangan. Ku buka lagi pesan-pesan yang kau kirim ke nomorku di masa itu. Tersenyum, air mata mengembang pada kelopak mata yang mulai lelah mengeluarkan sedihnya. Jangan tanyakan, aku memang sengaja menyimpan semua pesan cinta itu selepas pergimu. Hanya itu satu-satunya hal yang dapat aku nikmati untuk bahagiaku.

Lalu bagaimana keadaan mu sekarang?
Tahukah kamu, doa tiada henti ku kirimkan untukmu. Selalu, saat aku membuka mata dan sebelum kembali menutupnya, aku bertelut dalam malam. Tiadakah kamu merasa doa itu mengalir, mengelilingi tawa dan tangis mu? Begitulah caraku mencintaimu. Andai ada cara lain untuk aku lebih dekat pada mu selain dengan doa, mungkin akan aku lakukan. Tapi-nyatanya-tidak.

Satu hal yang masih ku sesali sampai kini. Aku tak jua mampu menaklukkan tantangan untuk mendapatkan mu. Aku kalah.

Mungkin kamu tidak akan peduli. Tapi, biar ku jelaskan alasan mengapa aku menyerah dalam juang untuk mendapatkanmu. Kala itu, aku begitu bersemangat mencintaimu, aku menginginkanmu dengan sangat. Aku membutuhkanmu. Aku jatuh hati pada caramu memperlakukanku bak putri dalam istananya.Aku terbuai-- Sampai saat dimana kau hilang dalam bayang. Kau berubah. Ada yang aneh dalam dirimu siang itu.

Tapi, langkahku berjuang tidaklah usai. Aku bertanya pada kita. Ada apa dengan kita? Kau mengacuhkan pertanyaanku. Sekali waktu kau menjawab dengan nada dan ucap yang semakin buatku tak mengerti. Kau balik bertanya, apa yang salah denganku. Kau bilang aku menuduhmu dengan macam hal. Sungguh, itu janggal.

Pada akhirnya aku mengerti, aku paham apa maksudmu selama ini.. Dia-buatmu-berpaling.

Jadi, bukan aku tak berusaha pertahankan kamu, pertahankan kita. Hanya saja, sakit bila dia yang begitu sangat kita cinta mendua di atas setia. Aku tak mampu seperti ini. Bukan, bukan karena aku tidak mau dengar penjelasanmu.. Tapi, luka sudah terlalu dalam. Maka ku tinggalkan.

Walau sesal begitu memenuhi aku. Aku yang beranjak tinggalkan cinta. Cintamu bersama dia.

Kedengarannya bodoh, aku masih saja mengingat-ingat kamu yang dengan mudah menodai rasa. Ya, bagaimana.. cinta memang buta, kan? Saat-saat ini, aku hanya mampu memandangi gambar-gambar kenangan kita, sebagai penawar rindu.

Manis kecupmu masih terasa.
Dalam diam aku meraba.
Air mata terbendung sendu.
Kesal membuai syahdu.

Tapi tak apa, biarkan aku terbiasa. Ada dua pesan untukmu;

Pertama, tolong jangan lagi kembali menemui aku. Jangan lagi memintaku mengulang segalanya. Berjanjilah, sekeras apapun aku meminta satu saat nanti, jangan pernah berniat untuk mencintai ku lagi. Karena, aku tak ingin sakit lagi. Setelah pesan ini kau baca, yakinlah aku sudah melupakanmu.

Kedua, jangan sakiti siapapun lagi. Biar aku saja yang mengalami. Aku tahu rasanya dihianati, dibohongi, didustai, itu menyebalkan. Rasanya, seperti gagal aku menggunakan akalku. Bisa-bisanya aku lengah dalam cintamu. Tapi, sudahlah.. intinya jangan ulangi ini pada siapapun. Kamu tau karma? Cepat atau lambat dia akan menghampirimu, jika kamu tidak juga berubah.

Pilihan ditangan mu, aku tidak berhak memaksamu untuk melakukannya (kecuali yang pertama, aku mohon padamu untuk yang satu itu). Hidup ini berputar, mungkin saat ini kamu bahagia telah mengacuhkan ku. Nanti, kamu akan diacuhkan, percayalah.

Sebagai sesama makhluk, aku tidak jua menyimpan dendam. Aku berlapang dada pada sakit yang ku terima. Doaku tetap menyertai. Semoga kamu berubah.

Ah.. Tidak terasa, cangkir kopiku sudahlah kosong. Aku tidak berniat mengisinya lagi, toh tulisan dan rindu ini harus diahiri. Kasurku menanti--

-Bintang, Senja-

Rabu, 30 April 2014

Aturan-Peraturan.

   Halo jomblo-jomblo bahagia! Gimana harinya? Baikkah? Enggak mungkin, ya.. Namanya juga jomblo. Hus.. gak boleh marah gitu, ah. Pantesan jomblonya gak kelar-kelar, gede di ambek, sih--- Eh... kepancing kan, nih. Udah, ah. Hari ini aku gak mau ngomongin jomblo. *Pengalihan*

   Bicara aturan-peraturan, setuju gak sih sama kalimat; "Peraturan ada untuk dilanggar."? Kontroversi emang, ada yang setuju ada yang enggak. Bebas, sih.. Tapi, mari kita lihat fakta lapangan:
1.   Aturannya, naik motor harus pakai helm-- tapi dilanggar.
2.  Aturannya, Ujian Nasional harus jujur-- tapi dilanggar.
3.  Aturannya, hubungan intim satu pasangan setelah menikah-- tapi dilanggar.
4.  Aturannya, ... ... ... ... ...
Sampe,
5.  Aturannya, nyari pacar yang sama-sama jomblo-- tapi dilanggar... malah ambil punya temen. *ups.

Yang ke-5 abaikan aja, aku yakin kalian ga ada yang seperti itu, kan? Good... Ha? Apa? Ada? Sila keluar dari link ini!

   Masih banyak aturan-peraturan lain yang harusnya ditaati tapi tidak pada kenyataannya. Pertanyaannya adalah; "kenapa kita begitu menikmati melanggar aturan-aturan tsb?" He--? Menikmati? Maksudnya, Pas? Jangan aneh-aneh duluk... Yaelah, mblo.
Gini, kita itu bukan gak tau apa yang bakal kita lakuin. Kita bukannya gak tau, kalo yang kita lakuin itu salah atau enggak. Dan kita juga bukannya gak tau kalo, melanggar satu aturan yang tertera pasti ada hukumannya.

Tapi, kita masih juga melanggarnya, bukan? Contoh paling gampang gini, deh... Bangun pagi. Aturannya adalah kita harus bangun jam 5 pagi karena harus berangkat jam 6-nya. Kalo kita udah bangun jam 5 tapi masih leyeh-leyeh karena males, ya hukumannya adalah kita telat. Molor dari waktu berangkat yang udah kita tentuin sebelumnya.

   Berarti jelas secara sadar kita ngelakuinnya. Walau ketika mendapat hukuman kita lempar batu sembunyi tangan. Gak mau terima, marah-marah sendiri, katrok, norak, kampungan. Jadi yang nulis juga baru ngalamin. Petaka banget.. Ceritanya gini;

*Uts sedang berlangsung di Kampus*

Dosen : "Heh kamu!" Menunjuk ke arah ku.
Aku     : "Iya, buk?"
Dosen : "Kamu tau kan peraturan di kampus ini?" Hampir memuncak emosinya.
Aku     : "Tau, buk.."
Dosen : "Terus kenapa kamu masih pake sendal yang memperlihatkan setengah kaki mu?"
Aku     : *nunduk, diem, lemes*
Dosen : "KELUAR!"

*kemudian hening* #HalahGaul

Jadi, di kampus itu ada 2 peraturan yang sampe saat ini masih ga ngerti tujuannya apa.
Pertama, harus pakai kemeja atau kaus berkerah.
Kedua, ya itu tadi, pakai sepatu tertutup.

Alesannya? AKIK GAK TAHU, CINT! Singkat cerita, gue harus keluar dan beli sepatu untuk Ujian mata kuliah terakhir yang cuma tinggal beberapa menit. Ngeselin abis........ Sebenernya gak akan jadi masalah kalau peraturannya itu rata di berlakukan oleh semua dosen. Karena, yang pakai sepatu kebuka itu bukan cuma gue. Ba-nyak! Sayangnya, gak semua dosen sama. Ya, kalau dosennya nyantai dia gak bakal masalahin. Cuma, apeslah gue saat itu. Kebagian dosen yang angot. Ilahh~~~

   Cerita gue buat contoh, deh. Maybe, kenapa peraturan jadi sering dilanggar juga karena alesannya ya itu... "Buat apa ada peraturan kalau hukumnya aja masih belum teratur"

Ih ngomong apa sih, gue. Lagi random banget niy otak gueeeeee. Ah. Iya mikirin kamu.. Yaelah. Udah, ah.

-Bintang, Senja-

Kamis, 24 April 2014

Terlalu Cepat Aku Mengartikan Cinta.

Sudah beberapa kali kita bersua dalam kerumunan pagi di halte ini. Kamu, berseragam sama dengan yang aku pakai. Kalau memang kita begitu dekat, mengapa kamu tidak pernah melihat tatap mata ku?

-----

"Perasaan belakangan ini, girang banget, Dil?" Sambil mengunyah permen karet, perempuan batak ini bertanya pada ku. Sonya namanya.

"He? Enggak, kok. Perasan mu aja kali." Jawabku seadanya.

"Ih, enggak kok... Ivy juga ngerasa. Ya kan, Vy?" Senggolnya kepada Ivy.

"Ah... Iya, Dil. Belakangan kamu suka senyum-senyum sendiri tiap pagi." Seru Ivy membenarkan.

"Enggak... Kalian terlalu perasaan, hehehe." Acuh ku beranjak pergi.

Begitu besar pesona yang kau tanamkan. Hingga sekitarpun dapat membaca hati dan perasaan. Cinta monyet katanya.

-----

Ini pagi ke-7 kita bertemu. Rasanya aku gemas ingin memulai pertemanan. "Ah.. Tidak juga. Mungkin aku ingin lebih." Tapi, bagaimana caranya?

"Aduh.. Bisnya manaaaaa!" Gumamku kesal, dengan kedua tangan penuh tentengan.

Lagi, ku sempatkan melihat kamu; besandar pada tiang penyanggah halte di sisi lain. Dengan santai, berikut earphone, sweater rajut warna coklat muda, kau tersenyum penuh arti.

"Aduh-duh.. Pelan-pelan dong!" Agak emosi aku berujar, si bapak muda berusaha menyerobot langkah ku menaiki bis merah ini.

"Awas-awas." Dengan ketus bapak itu menjawab.

Semua barang bawaanku terjatuh. Dengan paniknya, aku berusaha merapihkan..

"Yaampun! Tunggu pak, tunggu." Ku rapihkan satu persatu bawaanku, sambil berteriak pada supir bis.

Sayang, nampaknya penumpang lain meminta si supir untuk cepat melaju.

"Loh-loh! Pak, tunggu dong! Pak!!" Ku coba berlari mengejarnya.

---

"Percuma, dikejar juga." ---

(He? Siapa yang sedang bicara sama aku? Jangan-jangan dia penjahat yang mau hipnotis aku lalu ambil barang-barang aku, lalu...............!)

"Eh, itu kertasnya penting gak?" Ucap-dia.

"I.... iya." Masih membelakangi-dia.

"Ya.. mendingan diambil, tuh. Sebelum kebawa angin." Lanjutnya.

"Waaaa. Tugaskuuuuu." Segera aku merapihkannya.

Secepat kilat aku menjangkau kertas-kertas tugasku yang penuh dengan angka dan rumus-rumus. Setelah rapih, ku pandang dia yang sedari tadi berbicara padaku. Ternyata..... itu-dia.

(Hih! Mimpi apa aku!!! Dil, itu-dia! Dia yang selama ini kamu perhatiin!)

Tawanya yang renyah seketika menyadarkan ku dari lamunan.

"Hahaha.. Mukamu panik banget." Sepertinya ia membuka pembicaraan.

Aku mematung.

"Udahlah, udah gak mungkin kekejar bisnya. Itu juga bis terakhir." Bicaranya seperti petir yang menyambar mukaku.

"Ha?!!! Yang terakhir?! Yang bener aja! Lalu aku gimana...." Hampir menangis aku bercerita, yang sebenarnya tidak tahu juga siapa yang peduli.

"Yap. Haha santai aja, sih. Anak Nusantara juga, ya?" Dia bertanya padaku? Padaku.

"Ho'oh.." Jawabku singkat, karena sedihnya.

"Gausah nyureng gitu.. Takut bolos?" Tanyanya lagi.

"Bukan...... Aku mau kumpulin tugas." Aku cemberut.

"Yakan, bukan mau mu juga kayak gini." Sambil memainkan handphone-nya.

(Bener juga, sih. Ini kan bukan mau aku. Bukan salah aku.. Lagian mungkin ini cara Tuhan biar aku bisa ngobrol sama orang ini. Hehehe)

"Kakak, anak Nusantara juga?" Pertanyaan yang sudah aku tahu pasti jawabannya. Bagaimana tidak, dia memakai seragam yang sama dengan yang aku pakai.

"Iya. Basa-basi banget pertanyaannya." Jawabannya membuat ku skakmat.

"Hooo..." Entah, apa kata yang pas untuk melanjutkan pembicaraan ini.

"Gue, Arka. Kelas 12. Lo?" Dengan manis dia berucap sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.

"Eh-- aku Dila, kak. Kelas 10. Hehe." Jawaban singkat, yang sengaja aku lontarkan. Agar terkesan pemalu. Ku raih jabat tangannya.

"Oh.. Yaudah mendingan lo pulang. Udah telat juga kalo ke sekolah." Katanya menganjurkan.

"Iya, kayaknya aku emang harus pulang. Eh, tapi.... kakak, gimana?" Tanyaku sok peduli.

"Ha? Gue? Gampanglah. Yaudah gue duluan, ya." Ujarnya seraya meninggalkan ku.

"Hati-hati lo." Ucapnya lagi, menoleh ke arahku seiring kakinya melangkah.

Aku tersenyum..
Ada bahagia yang tak bisa ku sembunyikan.
Bak apel yang mulai ranum,
Pipiku merah merekah kemudian.

-----

Percakapan yang begitu sederhana,
Membawa kesan teramat dalam.
Pada bola mata itu aku terpana,
Membuat ku mengagumi dalam diam.

Dengan bersemangat aku berjalan,
Berharap bertemu dengan sang tuan.
Pagi-pagiku terasa menyenangkan,
Senyumku terus beriringan.

---

Ini pagi di hari Kamis. Langit begitu cerah menghiasi. Semua orang berlalu lalang dihadapanku. Bis-bis bergantian membawa penumpangnya. Loh, kemana dia? Tak terlihat... Sakit? Bolos?

---

Lusa, aku sengaja berangkat lebih awal. Mungkin kemarin aku kesiangan. Maksud hati ingin bertemu tuan. Kembali aku memandang dari kejauhan. Tapi, tak jua kunjung datang.

---

(Apa sih! Kok gak pernah ketemu. Aneh. Aku udah dateng pagi, tapi gak ada. Sengaja lari-lari dari rumah, sarapan di jalan, eh tapi gak ketemu juga.)

Hei! Siluet itu..
Berdiri tegap, dengan tawa begitu lepas.
Memandang ke arah lain, dengan tatap hangat.
Itu-dia..

Berdebar jantungku,
Deras darahku,
Seperti ada rindu yang begitu liar.
Pada kagum yang tak berkesudahan.

--

Tapi..
Kepada siapa, dia tertawa?
Kemana arah pandangannya?
Sepertinya,
Dia begitu mengenalnya.

Berderap kaki ku, berjalan menghampiri mu.
Seperti semangat bercampur khawatir.
Entah, mengapa hati berkecamuk seketika.
Setelah sepertinya, ku lihat wanita menemaninya.

Ini dia...
Hampir terlihat semua.

*DEG*

Langkah berhenti seketika,
Seperti mengenalnya..
Iya, dia-yang-bersamanya.

---

Untung saja bis merah 'kita' datang, kalau tidak bisa mati aku. Tak percaya dengan yang ku lihat. Berkali-kali aku menegaskan pandanganku. Agar tak salah aku menganggap. Tapi, sungguh.. aku tau itu siapa. Aku tau siapa yang sedang tertawa bersama mu. Aku mengenalnya. (Dia..... Ivy-Teman-Baikku.)

---

Kau gandeng dia-temanku,
Lalu kemudian kalian hilang bersamaan dengan bis melaju.

Petir lalu bersambut dengan kilatnya.
Hujan kemudian turun dengan derasnya.

Aku terduduk, termangu, dan tapi masih tersenyum.
Bibirku kelu, tak ada satu katapun yang mampu terucap.

Terlalu cepatkah aku mengartikan cinta?
Hingga Tuhan menjawabnya dengan cela?

Sumpah!
Aku telah salah jatuh cinta.

Sudah!
Biarkan aku menangis dalam tawa.

Kali ini, aku menertawakan kebodohan ku sendiri.

-----

"Perlahan aksara cintaku tersapu oleh air mata syahdu. Tidakkah engkau memahami hatiku, seperti bianglala beradu?"

-Bintang, Senja-

Selasa, 15 April 2014

Se-la-mat-19!

Happy nineten!
Gak ada kue, gak ada kado, gak ada tiup lilin.. Mungkin, gue udah semakin tua. Tapi, "masa ucapan selamat dari kamu juga, gak ada.." Hehehe.
Banyak orang bilang kalo gue adalah galauers, alay, twitt isinya mewek semua. Well... Biarlah orang bicara seperti itu, dan biarlah gue terus bergalau-ria dengan kemelut cinta gue. Karena... tahun depan udah gak bisa. Kenapa? Ya.. Kalo tahun ini gue 19 tahun, lalu tahun depan umur gue...? NO!
Tua sekali, yaaaa.. Dan, gue menyadari itu, jadi sebelum gue menjadi tua, biarkan gue ngalay sepuasnya. Janji setelah itu, gue akan ber-u-bah, *SEMOGA* (--,)

Sebenernya gue juga capek, sik galau-galau gitu. Capek, juga sih ngetwitt soal cinta muluk.. Soalnya jadi berasa selebtweet wanna be gitu. Padahal, sumpah! gue mau. Hahaha. Enggak, deng. Serius gue gak tau selebtweet itu gimana caranya. Yang gue tau, gue bahas persoalan cinta gue alias nyurhat di twitter. Kalau ada yang ngerasa sama dengan yang gue alamin, lalu banyak yang ngeretweet, lantas apa iya gue jadi selebtweet? Atau sekurang-kurangnya, apa iya gue ada keinginan seperti itu? Enggaklah! Semoga yang nyinyirin gue soal twitt gue, baca postingan ini, ya:)) Gue kayak gitu karena gue jomblo, jadi cari bahagia di dunia maya. Tapi gak se-ekstrim yang lo pikir sekarang, juga.

Bicara soal jomblo, kayaknya predikat itu nista banget, ya? Gak jarang gue temuin, banyak masalah-masalah dikaitin sama status jomblo seseorang. Misal; Malem minggu ujan, disangkanya gegara doanya para jomblo. Itu, kan gak enak banget, ya? Bayangin dong perasaannya para jomblo. Padahal kalo ujan yang paling sedih tuh ya, kita-kita yang jomblo ini. Yaiyalah, biarpun ujan-badai-tsunami, lo yang pasangan masih bisa pelukan, ciuman, mainan(?), walau gak ke bioskop. Nah, kita yang jomblo? Udah di rumah, sendiri, hape mati, boro-boro meluk guling. Guling juga ogah meluk kita (jomblo). Huft. Dunia gak adil.

Harusnya ada tuh, acara-acara pencarian jodoh buat jomblo. Eh, tapi jangan yang masuk-masuk tipi, gitu.. Kan malu, kan gengsi, kita jomblo juga kan punya martabat *lah* #JombloGakTahuDiri #TerusMaunyaApa u.u

Jadi, kemaren itu, pas ulang tahun gue.. Timeline twitter, penuh sama retweet-an-nya @aMrazing (Iya.. Alexander Thian) yang gak tau searching aja, ya. Ternyata, si kokoh yang satu ini lagi jadi mak comblang bagi kaum kami. Masih sama sih formatnya kayak acara-acara cari jodoh di tipi, tapi diselenggarakan (#halahdiselenggarakan) di twitter, dengan hashtag #JomblonyaLexy, jangan lupa cantumin foto berikut pernyataan elo Straight atau enggak. Biar, gak salah milih. Hahaha. Kedengerannya sedih banget yak, jombo-jomblo ini.

Gue pengen ikutan, sik. Tapi, karena liat umur-umur yang dicantumin berkisar antara 20, dst, jadi ciut gue. Selain malu, kan gue masih kecil ya di antara mereka. Secara pengalaman gue gak ada apa-apanya. #HalahPengalaman. Tapi, gue penasaran dan masih mantengin tl-nya Alex, guna mencuci mata dengan wajah-wajah tampan, berwibawa, nan matang. Lah? Hahaha. What-a-surprised, ada beberapa mention masuk ke akun gue akibat gue mengomentari biodata mereka, yang ikutan ajang mencari jodohnya si Alex. Kalo anak gaul bilang #RejekiAnakSoleh-itu mah hihihi (--,). Lumayan banyak juga sih, hahaha.

Yang pertama, umurnya 20 tahun. Cowok, straight, gak tau deh zodiaknya apaan. Mention pertama dia, akibat respon gue adalah, "Alhamdulillah, semoga kali ini gak tante-tante", waaaa anjrit! Hahaha.
1) Doi, bilang "semoga kali ini gak tante-tante.". Ini, dia ngomong gitu udah liat avatar gue belom, yak. Gawatnya kalo udah. Berarti tampang gue......
2) Dia juga ngucap "Alhamdulillah", kebayang gak lo, betapa putus asanya kami para jomblo mencari pasangan? ;'D

Yang kedua, umurnya.... 16 tahun (menurut pengakuannnya, sik), tapi gue gak yakin, abis gaya bicaranya kayak om gue. Tuwirrrr. Dan, masih mentionan sampe sekarang, pukul 09.41 pagi, hahaha. #TernyataBenerGueTante *lah. Dalem hati, "Perjalanan mu masih panjang, dek. Mengapa begitu cepat kamu putus asa akan kejombloan mu ini" u.u~~~

Masih ada beberapa, sih. Tapi, yang paling keren, pas ada akun yang bilang dia gay, gak tau sih bener apa enggak. Komentar gue; "Salut:)! Tapi, sayang. Belajar arti cinta sama aku sini, kak:((", dia bales cuma "Mbak....", gue pikir dia cuma bercanda berarti soal gay itu. Karena gue penasaran, gue tes dong, gue bales lagi "Iya, mas?" dan..... Gak dibales sampe sekarang! Hahaha. Kesimpulannya? Simpulkan sendiri. Gue-gak-tau.

Ya, ternyata mencari pasangan di twitter-pun, yang gak sepublik acara tipi tetaplah SULIT. Dan, gagal lagi gue dapet satu. Hahaha #TernyataNiat. Enggak, sih. Cuman lumayanlah buat ganti kado ulang tahun gue. Lumayan buat ketawa-ketawa ngikik, melewati malam pertambahan umur gue. Thank, Koh Lexy!

So, buat kalian yang udah punya pasangan jangan sampe putus. Karena, biarpun banyak jomblo bilang, "Jomblo tuh bahagia, bebas!", tetep aja mereka, kami, kita, merindukan perhatian dan cinta kasih tulus. Haduh... Curhat, Pas? Iya..
Dan pelissss banget, jangan terus menghujat kami jomblo u.u doakanlah kami agar cepat mendapatkan pesangan-dan-hidup-bahagia. Tentunya, itu kan akan lebih indah. Habis itu gantian deh kita.... yang doain kalian biar putus, terus kalian jomblo, terus kalian dihujat (--,) #DendamnyaJomblo hahaha, becanda.

Yaudahlah, ya.. Makin lama, makin curhat entar gue. Hahaha. Btw, kalo udah baca, kasih komentar buat tulisan gue ya. Lewat kolom komentar di bawah, atau kalo mau lebih pribadi, bisa mention gue di akun twitter @FascariaM. Nanti bisa DM-an siapa tau. Lah, tetep. #PencarianTakKunjungUsai. Hahaha. Bye, dude.

-Bintang, Senja-

Kamis, 10 April 2014

Soal Agama.

Hai. Apa kabar, nih? Gak usah dijawab.... formalitas doang, sih. Hari ini gue mau nulis soal masalah yang sering dialami oleh kebanyakan muda-mudi, dalam hubungan pacarannya. Ini menyambung postingan gue yang berjudul "Kata Orang...", kalo gak salah akhir Maret kemaren. Yang belom baca, coba agak nyelem ke bawah, ya. Kalo kata admin salah satu akun Stand Up Comedy di twitter, "Jadi Jomblo Jangan Males!" heuheu *ketawa sinis ceritanya* Iya, sekedar info gue juga penikmat acara stand up comedy. Nanti ya kapan-kapan gue ceritain.... Siapa juga yang mau denger, ya? Oke.

Pertama, pasti pas baca judul postingan kali ini, lo pada ngira gue bakal Sara, ya? Semoga enggak, ya... Gue gak niat kesitu, kok. Kalo ada yang salah tolong nanti dikomentari aja, ya. Suwun loh, kakak-kakak senior.
Kedua, .......
Gue gak nyiapin materi buat yang kedua ini. *Jreng* Apaan, Pas..

Ya, sama seperti "Kata Orang...", masalah dalam hubungan percintaan lainnya adalah..... A-ga-ma. Agak miris sebenernya gue nulis ini, abis sebagai kawula muda yang juga sedang terhipnotis oleh manisnya buai cinta, hubungan gue juga kandas karena persoalan agama yang penuh dengan irama. Curhat ya, gue? Biarinlah ya. Iya, Pas..

Dulu... Gak dulu-dulu banget, sik. Eh-eh kenapa lagi, gue sikkkkkk.. Sorry-sorry, ulang ya.
Dulu, gue pernah pacaran hampir tiga tahun, sama anak kuliahaan.. Asik. Kiw~ rasanya bahagia deh, secara dulu kan waktu jaman-jamannya SMA keren tuh ye ngegebet anak kuliahaan. Gausah ngecengin gue.. lo juga gitu pasti, kan? Wooo. Balik lagi, waktu pertama kenalan, gue sama dia udah tau kalo kita itu beda, soal agama, suku, yang sama ya cuma perasaan kita. Hasek! Kita juga udah tau kalo hubungan ya kita jalanin ini gak bakal ada ujungnya. Gak-Bakal..

Selayaknya orang pacaran, ya kita juga sama. Smsan, dari yang standart nanyain makan sampe dengan lebay nan alaynya ngomongin pernikahan plus nama anak-anaknya. WOY! LO KENAPA, PAS~~~ Alay bener, Pas.. Untung gue gak pakek ayah-bunda, mami-papi, dll, dll ya. Huahaha. Kenapa? Kesindir, ha? Yaudah sana!... Eh jangan deh jangan. selesein dulu ya bacanya sampe bawah haha. Nah, iya, kita juga malem mingguan dong.. Makan nasi goreng pinggir jalan, gue makan nasi, dia makan juga... gorengan tapinya, cireng lagi, pake sambel belibis biar tambah hot. Apaan, lagi ini.
 
Satu hal yang paling susah dilupain, setiap mau makan kita gak pernah lupa berdoa. Beneran deh, gue lipet tangan dan tutup mata, dia menadahkan tangan sambil berucap doanya. Gue bahagia punya doi, sosok yang tau agama walau gak agamis. Mungkin bakal bahagialah gue, kalo dia jadi suami gue. Penyabar, ngemong gue dengan dewasanya, dan selalu punya alasan buat gue berenti ngambekin dia. Ah.. Sambil nangis nih ngingetnya. Sepik.
 
Sering banget kita ngomongin mau kemana arah hubungan kita. Dia bilang, kalo emang gue mau, ya kita berjuang sama-sama. Masalahnya, "untuk memperjuangkan sesuatu, harus ada yang dikorbankan", dan taruhannya, selain sudah pasti Iman terhadap Tuhan, keluarga adalah hal terpenting dalam hidup yang tak mungkin untuk dilepaskan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Pembahasan yang sangat rumit ini gak lagi menemukan jalan keluarnya. Sekali lagi, karena hal yang katanya cinta.
 
Well... Pada akhirnya kita berpisah juga. Gue gak bisa ngelepas keluarga gue, dan terutama jelas, gak mungkin sanggup gue menghianati Iman yang sudah gue yakini.
 
Akan menjadi konflik jika agama tak sejalan. Padahal, iman mencari jalannya sendiri menuju yang diyakininya Tuhan.
 
Kolot emang, ya tapi emang gak akan ada penyelesaian dari masalah Cinta tapi Beda ini. Saran gue sih, ya usahakan jangan sampe jatuh cinta sama orang yang beda keyakinan dengan kita. Karena gak akan ada akhirnya, malah nanti lo cuma buang-buang waktu memperjuangkan hal yang masih di awang-awang juntrungannya.
 
Atau kalo emang udah kepalang tanggung, ya balik lagi ke Tuhan. Berdoa! (menurut keyakinan masing-masing ya. Berdoa... dimulai!) Inget, sebesar apapun masalah lo, jangan kebanyakan nuntut, lo cuma pantes berdoa dan mensyukuri sesuatu, begitupun dengan meminta, tapi jangan sekali-sekali Menuntut! Gue ngomong gini bukan, mau nasehatin. Tapi sama-sama ngingetin. Cailah. Sedap...
 
Yaudahlah.. Mungkin itu yang bisa gue share untuk sekarang, nanti kalo ada yang punya masukan soal permasalahan ini, bisa hubungin gue. Siapa tau bisa japrian, ya... siapa tau kita jodoh, kan? Jangan buru-buru bilang enggak. Gak ada yang tau maksud Tuhan. Hahaha *ceritanya maksa*

Jadi daritadi ngebacot soal ini, gak ada solusinya, Pas?!! Lah, siapa yang janji ngasih solusi? Bahaha. Bye, dude!

......
Jangan nyureng gitu ah, mukanya~~

-Bintang, Senja-

Sabtu, 05 April 2014

Janji mu, tertelan Dunia.

Saat matahari mulai menenggelamkan sinarnya pada keindahan langit di ufuk barat, kita selalu duduk termangu di bawahnya. Memandangi redupnya, sampai benar-benar tersapu bersih tak tersisa. Dengan senyum dan senda tawa, kita terus menikmati keindahan alam yang dunia suguhkan. Seperti hanya kita makhluk yang sengaja Tuhan ciptakan.

"Jangan senyum-senyum terus, jadi kayak orang stres, kamu." Ledek mu, jahil.

"Ih, apasih. Iseng, deh." Jawabku sambil menutupi wajah yang mulai memerah karena malunya.

Berebah pada rumput hijau dengan pancar merah jingga oleh sinar surya, kita bergenggam tangan. Jemari mu terselip erat pada selah jemari ku. Lagi-lagi senyum menghiasi, kali ini tanpa ledekan usil tentunya.

"Kelak nanti, bukan hanya jemari yang akan bergenggaman.." Ucapmu pelan.

Seketika aku terdiam. Ku pandang wajah mu yang begitu seriusnya berucap, tapi tetap dengan raut yang sama.

Oh Tuhan.. Hangatnya senyum itu.

"Pada senja yang lain, akan ku peluk engkau di tempat ini. Mengikat mu dengan lingkar cincin yang juga akan menemani langkah mu." Lanjut mu.

Aku terkekeh. Dengan air mata yang mulai mengembang, ku terduduk memeluk lutut.

"Loh, kenapa? Kamu nangis? Aku salah ngomong, ya?" Tanyamu heran.

"A-ah enggak tuh.... Enggak salah kok." Ku usap air mata yang hampir jatuh dari kelopaknya.

"Hahahaha.. Coba mana sini, liat muka cemberutnya." Ledekmu sambil mengangkat daguku.

Kita terus larut dalam senda gurau, yang begitu membunuh waktu. Berguling di gundukan tanah serasa kasur empuk dengan rumput tebal sebagai selimutnya. Tak terasa, hari mulai gelap. Bulan dan bintang mulai bertaburan pada bayang-bayang lekuk tebuh dua insan yang saling mencinta; kita.

"Eh, maksud omonganmu tadi apa?" Kali ini aku yang bertanya.

"Ah.. Omongan yang mana?" Jawabmu, gurau.

"Jangan pura-pura gitu, ah...." Sahutku manja, sembari mengernyitkan dahi.

"Hahahaha" Tawamu keras yang kemudian hilang, lalu suasana kembali hening.

Kau duduk tepat di hadapanku. Bola mata yang terus berpandangan, seakan bercerita betapa kita begitu saling mengisi, satu-sama lain. Lewat bola mata itu pula, ku lihat masa depan ku, begitu tergaris dengan nyatanya.

"Iya, jari ini gak akan cukup menemani langkahmu untuk hari yang akan datang. Maka, aku berjanji akan menggantikannya, dengan lingkar cincin yang terus mengikat mu, kemanapun langkah kakimu berderap." Jelasmu.

"Loh, kenapa begitu?" Ujarku kemudian.

"Karena, tidak ada yang abadi di dunia fana ini, kan? ---

---------------

Dan benarlah, memang tidak ada yang abadi. Kecelakaan naas yang merenggut nafas mu malam itu. Sesaat setelah kau ucapkan kalimat yang kemungkinan adalah doa, kau tinggalkan aku sendiri di tempat ini, di bumi ini, sepi...

Jika saja aku tahu , kalimat itu adalah salam mu, untuk mengucap pisah padaku,
Tak kan mungkin ku biarkan, kau mengatakannya.
Kini sesal dengan berjuta rindu, terus menumpuk dalam benakku,
Berharap Tuhan menarik kembali takdir-Nya.

Dunia yang kau berikan,
Begitu tega kau hempaskan.
Janjimu yang kau limpahkan,
Merana aku mengharapkan.

Bukankah kau berkata,
Untuk memeluk ku di tempat ini.
Bukankah kau juga yang berkata,
Untuk melingkar cincin di jemari ni.

Kini, aku memeluk tubuhku sendiri.
Mengenggam tanganku sendiri.

Di kolong langit,
Tempat kita memandangi indah lukis dunia.
Tempat kita bercinta bersama langitnya.
Tempat kita tertawa dalam bahagia.

-Bintang, Senja-

Jumat, 04 April 2014

Sahabat, bukan?

"Semua orang pasti pernah atau bahkan sampai sekarang punya teman atau sahabat atau apalah semacamnya, dan atau bahkan ada yang hanya mengaku-ngaku memilikinya."
 
Kenapa gue bilang cuma ngaku-ngaku punya? Karena, banyak di antara kita yang mengaku bersahabat tapi tidak berlaku layaknya sahabat. Malah ada yang dengan lebay-nya bilang "Dia tuh soulmate gue", karena ngerasa punya banyak kesamaan, misalnya suka makanan yang sama, suka bioskopan, suka ngoleksi aseksoris dan mantan yang samaan, plus sama-sama suka ngerebut pacar orang. Becanda.... tapi, apa ada yang ngerasa?

Gue pribadi, sih belom bisa definisiin arti sahabat itu sendiri. Gue punya beberapa temen deket, deket banget-banget-banget malah. Kita sering ketemu dan ngabisin waktu bareng-bareng, nonton, dvd-an, karokean, ngecengin orang, gosipin orang, dll, dll-lah... Tapi, gue belom bisa bilang itu sahabat gue. Abis banyak orang bilang, sahabat itu ya yang ngerti dan ikutin mau lo. Ah temen-temen gue gak gitu, kita malah sering banget ngeributin hal-hal yang gak penting buat diributin. Misalnya, makan apaan hari ini. Yaelah... Kayak saudara seperguruan aja, ya. Yang kalo pagi ada kakak tertua nanya mau makan apa tiap harinya, terus adik-adiknya berebutan biar usulnya diterima. Apaan, sih.

Menurut gue, lo gak perlu ngelabelin status pertemanan lo dengan kata Sahabat biar keliatan keren di mata orang lain, atau biar bisa dipamer-pamerin ke temen lo yang lain. Buat apaan juga, kalo ternyata elo gak pernah ada buat dia waktu dia susah atau bahkan temen lo curhat soal masalahnya aja lo gak peduli, padahal cuma buat jadi pendengar doang. Ngedengerin curhat temen itu bukan cuma duduk di sampingnya dan buka telinga lebar-lebar, ya.. tapi beneran fokus dengerin. Percuma badan lo ada disitu tapi pikiran lo melayang-layang entah dimana. Kebaca banget tuh isi otak orang yang macem gitu; "Ini orang bacot banget, sik", alah. BASI. Makanya mendingan gak usah sok sahabatan kalo hal kecil kayak gitu aja masih susah ditemuin dalam persahabatan lo. Jadi, kita sepakat ya gak ada sahabat, cuma temen.. temen deket.

Sekarang, temen yang baik tuh yang gimana, sik?
Ini menurut gue, ya.. semua orang bebas berpendapat soal kriteria temen yang menurut dia baik. Tapi kita sama-sama setuju dong ya gak suka sama orang munafik? Ya, pasti iya.

Temen baik menurut gue, dia yang ada waktu lo susah dan seneng (biasa banget, ya), terus dia yang rela nangis buat sedihnya elo (biasa lagi), tapi yang paling penting adalah dia yang berani marahain lo waktu lo salah. Bukan dia yang sok baik dan sependapat sama lo padahal di belakang malah nyinyir gak jelas.
Kalo lo ngaku lo temen yang baik dan peduli sama temen lo, harusnya lo mau yang terbaik buat dia dan pertemanan lo. Berani bilang salah walaupun susah bilangnya. Dan lo yang salah harus mau juga dibilangin. Jangan tambeng jadi orang.
 
Masalah di terima atau enggaknya saran lo, itu tergantung bagaimana cara lo berteman. Harusnya kalo lo udah nganggep seseorang itu temen baik lo, lo udah saling terbuka buat semua hal. Termasuk saling kasih saran-saran yang sebenernya baik tapi rada nyes kalo didenger. Lebih enak dibilang, "Baju lo gak cocok tuh" atau "make up lo kemenoran noh", daripada dibilang "lo cantik banget hari ini", tapi dia malu jalan sama lo. Kan kampret.

Jadi, gak usah sok-sok merasa punya temen deket kalo masih suka bohong sama dia yang lo anggep temen itu. Palsu itu, eh. Enakan yang aslilah, ya. Apasih. Rada sulit dicerna ya omongan gue kali ini? *emang yang sebelumnya bisa dicerna, Fas-_-* ah biarin. Udah, ya. Bye.

-Bintang, Senja-

Rabu, 02 April 2014

Malaikat kecil.

Menahan malu..
Hampir saja air mata, ku teteskan di angkutan umum, saat perjalanan pulang menuju rumah.
Bukan.. Kali ini bukan karena cinta.
Bukan juga karena lelah, sehari penuh menuntut ilmu.

Sesosok bocah kecil berusia lima, melangkah kaki kedalam angkutan yang juga ku tumpangi.
Dengan mata sayu dan tubuh mungilnya yang melunglai
Di petiknya gitar dan mulai dia bernyanyi.
Terkantuk-kantuk, ia bergelayut di muka pintu menahan imbang badannya,
Sesekali hampir ia menutup mata pertanda lelah tubuhnya
Tapi, semangat mencari masih tersirat lewat senyumnya
Walau sangatlah tidak pantas diterimanya.

Lagu yang juga menyiratkan.
Betapa pedih hidup yang dijalaninya,
Betapa bosan ia melakukannya.
Betapa rindu akan waktu bermainnya.
Miris rasanya..

Entah dimana orang tuanya.
Tegakah mereka membiarkan buah hatinya
Apa? Apa yang ada di fikiran orang tuanya?

Langit malam beserta jalan bebatuan seakan telah menjadi kawannya.
Lampu kota dan desir angin seakan akrab dengan senyumnya.
Bukan.. Bukan dia tidak tahu akan bahaya yg menantinya.
Tapi bisa apa?
Ini hidup yang mau tidak mau dijalaninya.

Lembar demi lembar..
Koin demi koin, iya kumpulkan dengan bahagianya
Kaki kemudian kembali berderap menapaki jalan selanjutnya
Seperti dirumah ada yang menantinya.
Segera ia berlari dengan riangnya.

Adik ku..
Tuhan bersama mu.

-Bintang, Senja-

Senin, 31 Maret 2014

Lidah ku tidak lagi berfungsi.

Manusia sangatlah berharga.
Manusia sangatlah berbudaya.
Manusia sangatlah cerdik akalnya.
Tapi,
Manusia juga pandai berbicara.
Manusia juga pandai menghujat lawannya.
Manusia juga pandai memalsukan hatinya.

Begitu besar anugerah Tuhan terhadap umatNya..
Tapi, sudahkah kita cakap menggunakannya?

Sangatlah manis berbicara ketika membutuhkan.
Dan menghilang saat sudah mendapatkan.

Mulut sudah tak lagi dipakai sesuai kegunaannya.
Cemooh dan fitnah, terus terucap secara sengaja.

Entah..
Sudah berapa hati yang tersakiti.
Sudah berapa banyak kawan yang menahan malu.
Sudah berapa banyak pula air mata yang terurai.
Ya..
Akibat mulut yang sangat lancang menuding seseorang.
Mulut yang dengan bangganya membuka aib seseorang.
Mulut yang terbiasa manertawakan kemalangan seseorang.

Ampun, Tuhan..
Jika memang lidah pada mulut ini sudah tidak mampu bekerja sesuai fungsinya..
Biarlah akhirat dengan kejam menyiksanya.

-Bintang, Senja-

Sabtu, 29 Maret 2014

Kata Orang...

Halo. Kenalin gue, Fasca. Mahasiswi semester 2, yang hidupnya penuh dengan kemelut cinta. Apaan, sih.. Iya, soal cinta emang gue gak pernah beruntung. Kalian gimana? Udah bisa move on? Masih nangisin orang yang gak penting? Masih bertahan diselingkuhin? Masih nunggu yang gak jelas? Kalo masih udah pasti begoknya elo berada pada stadium akhir. Tapi, tenang.. Paling enggak lo gak begok sendirian. Masih ada gue.

Sebelum pembahasan kita makin dalam, pasti di tengah cerita bakal banyak yang nanya, "kok gak malu sih cerita soal pribadi kayak gini?" atau "ini serius nih yang lo omongin?", gini ya, gue gak bisa nulis hal-hal yang gak pernah terjadi sebelumnya. Gue anti banget imajinasiin hal yang mau gue tulis alias cerita fiktif. Pernah nyoba bikin cerita fiktif beberapa kali, dalam bentuk narasi maupun dialog, dan semua gak pernah selesai. Semua berenti di tengah-tengah cerita. Biasanya karena gue jenuh. Ya gimana, lo dipaksa buat menghayal. Ya kali deh.. Jadi, pasti yang gue tulis itu pernah atau sedang terjadi, minimal nyerempet dikitlah sama suasana hati.

Oke, balik lagi dengan kemelut cinta anak muda nan rupawan walau dengan otak yang tertinggal. Tertinggal... di masa lalu. Yahelah~ Iya, gue itu gampang banget jatuh cinta. Eh enggak deh.. Gampang nyaman doang sama orang baru. Biasanya sih hal-hal kayak gini terjadi sama orang yang gampang bergaul, periang, pemimpin dan tapi sensitif hatinya. Ya kayak gue cmehehe. Kalo ada di antara elo yang sama kayak gue, berhati-hatilah dalam menerima perhatian dari seseorang. Karena, kita rentan terkena wabah penyakit kronis yang menahun. Ya, penyakit yang menyerang hati terdalam sampai ke akar-akarnya. Duh..

Tapi, semudah gue jatuh hati, semudah itu juga gue berlari. Lari dari kenyataan, kenyataan cinta, cinta buta, buta mata, mata hati, hati sakit. Ah apaan lagi sih. Dulu gue pernah pacaran hampir 3 tahun, tapi karena alasan agama yang berbeda akhirnya bahtera cinta harus kandas. Bayangin 3 tahun! Gue gak sedih-sedih amat gitu. Ya, biasa aja, awalnya doang ngerasa keilangan.. Kesini-sininya, biasa aja. Tapi, setelahnya gue jatuh hati sama orang yang baru gue kenal. Perhatian deh orangnya, tapi gue salah ngartiin itu perhatian. Dan jadilah gue seperti ini, galau tak berkesudahan. Padahal kenalnya belom ada sebulan. Kampretlah.

Cinta tuh emang gitu, misteri. Lo gak tau dimana hati lo bakal berlabuh. Lo gatau dimana mata lo bakal terpana melihat ke satu arah tanpa berkedip. Gak akan pernah tau. Maha besar Tuhan yang begitu hebatnya menciptakan manusia berpasang-pasangan. Tanpa tertukar walau lo dan jodoh lo berada di belahan dunia dengan jarak berjauhan.

Kayak sekarang ini, gue masih dengan bodohnya mencintai orang yang gak tau cinta atau enggak sama gue. Gue yang juga masih dengan setianya menunggu dia yang sekarang lagi bermain cinta dengan perempuan lain. Wait... Gue tau pasti sekarang lo lagi mikir betapa bloonnya gue, kan? Gue makluminlah, orang kan gitu.. bisanya nasehatin doang. Nasehatinnya gak berbobot lagi, gak kreatif. Semua yang denger cerita gue, pasti rata bilang "Yaelah, Fas... kayak gak ada cowok laen aja!" Matamu soekkk.

Kalo gue bisa milih ke siapa gue jatuh cinta, gue bakal milih cowok yang gantengnya kek Rio Dewanto, badannya sekeren Joe Taslim, dan humorisnya kayak stand up comedian Bin... Nah, iya gitulah pokoknya. Masalahnya adalah hati tuh gak punya google map buat nentuin kemana arah cinta lo singgah.

Ngomongin cinta emang gak ada abisnya. Tapi, yang perlu diinget adalah.. Tuhan udah siapin satu orang buat lo. Tinggal gimana lo mau bersabar. Pernah ada sahabat yang bilang sama gue, "Jangan terlalu ngarepin datengnya pacar.", jadi ya.. dijalanin aja. Sambil usaha tapi *kemudian terjun ke jurang*. Gausah malu nangisin cinta lo, semua orang pasti pernah ngerasain, dan gak usah musingin orang yang sok nasehatin lo. Gue yakin, yang suka ngomong gitu justru orang yang gampang patah hati dan susah move on sebenernya. Abis lancar banget ngomongnya, gak pakek ngadet-ngadet.

Oh iya, ketika lo yakin dia adalah cinta yang lo harapkan, jangan pernah ragu buat memperjuangkan. Daripada diperjuangin sama orang lain? Meringis nanti. Udah, ah. Gue mau jadi puitis lagi. Bye, dude.

-Bintang, Senja-

Selasa, 25 Maret 2014

Cinta yang lain-

Hari ini, kembali aku membuka mata..
  Bernafas dengan sesaknya,
Merindu dengan dalamnya,
  Bersyukur dengan harunya,
Mencintai dengan penuhnya..

   Halo. Dimanapun saat ini kamu berada, percayalah.. doa ku menyertai mu. Kali ini, aku beranikan diri untuk berlapang dada dalam kekalahan ku yang amatlah nyata. Di tempat lain, ada wanita yang juga begitu mencintai mu. Bahkan mungkin lebih dari tulusnya cinta ku pada mu. Dia, sanggup memberikan seluruh raganya, untuk merengkuh hati mu.

   Dalam derap langkah kaki, aku kembali kepada kenyataan hidup yang tak begitu ku rindukan. Aku terbangun dari mimpi yang lama membuai lelap malam ku.

  Cinta..
  Berbahagialah dalam hidup mu..
  Raihlah cita dan cinta mu..
  Kasihilah orang yang begitu menyayangimu..
    Walau, bukan aku bagian dalam hidup mu.
    Walau, bukan aku yang menemani pencapaian mu.
    Dan..
    Walau, pasti bukan aku yang akan kau kasihi.

   Senyum ku terus menyimpul, kala ku ingat manis cara mu memperhatikan setiap sikap ku. Sikap yang sama kerasnya dengan isi hati mu. Usap tangan mu pada helai rambut ku dengan peluk cinta yang amat aku dambakan. Hingga tanpa sadar ku teteskan air mata bahagia yang perlahan membasahi sisi wajah ku. Kau seka air mata itu, dengan senyum yang seakan berkata, "Hentikan tangis itu, aku bersama mu."
Manis, bukan? Sayangnya, ini harus terkubur usang dalam memory ku..

   Cinta ku terhenti dalam perang yang belum juga ku rampungkan. Di sudut lain kota ini, ada dia yang begitu menanti peluk mu. Maka... Pergilah-

Teruntuk, kamu..
Pengisi malam ku, di bentangan langit luas.

-Bintang, Senja-

Jumat, 21 Maret 2014

Bodohnya Cinta ku-

Kamu...
Datang di saat aku begitu menanti indahnya cinta.
Kamu...
Mampu menghapus tiap goresan perih dalam hatiku.
Kamu...
Membuat aku lupa, dan bangkit dari masa lalu ku.
Kamu...
Memberi sejuta harapan yang begitu aku dambakan.

Dan semua itu tinggalah sebuah cerita. Cerita manis yang begitu membuai hati terdalam ku. Hingga saat ku sadari, betapa sangat bodohnya aku. Menaruh besarnya cinta, kepada kamu yang saat ini memilih bahagia yang lain.

Kamu...
Tak pernah bisa menjadikan ku yang kau cinta.
Kamu...
Pergi dengan alasan yang tidak pernah aku mengerti.
Kamu...
Mengubur semua mimpi dan angan bahagia ku.
Kamu...
Kembali memberi perih yang sangatlah aku benci.

Begitu malangnya nasib cinta ku. Berkali-kali aku jatuh dan mencoba bangkit. Kau datang hanya untuk sementara. Lalu pergi dengan semua kisah manis yang kita lalui. Aku terus menunggu di batas perih ini, tapi tak ada yang kunjung datang. Lalu.. Siapakah yang sedang aku nanti?

Cinta ku pergi..
Melebur bak mawar hitam yang tak kan mungkin kembali pada keindahan semulanya.

-Bintang, Senja-

Senin, 17 Maret 2014

Penantian ku.

Aku lelah.. Lelah menunggu.
Aku rindu, rindu kamu.
Untaian doa, tak ada terputus untuk mu, begitu juga untuk hati ku..

Aku berusaha melupakan kamu.
Aku berusaha menjauhkan angan tentang mu.
Tapi, bisa apa? Aku sungguh mengasihi mu.

Kemana kamu pergi?
Kemana kabar yang aku ingini?
Tolong..
Jangan diamkan aku seperti ini.

Pada hakikatnya, wanita selalu berjuang akan cintanya.
Dia mampu menyembunyikan sedihnya.
Tapi, betapa rapuh hatinya, jika kamu pergi tanpa pesan yang dimauinya.

Bicaralah..
Sesakit apapun itu..
Seretak apapun hati ku kelak menerimanya, aku siap.
Sungguh, aku menunggu.

Dalam tangis.. -Bintang, Senja-

Minggu, 16 Maret 2014

Pernahkah?

Pernahkah kamu tertawa dalam sedih mu?
Pernahkah kamu berkata iya pada hal yang tidak pernah kamu sukai?
Pernahkah kamu berusaha terlihat bahagia, untuk menutupi luka pada hati mu?
Pernahkah kamu berada pada posisi harus melupakan kenangan yang tidak mungkin terlupakan?

Ya, tertawa saat mendapat kabar bahwa dia lebih memilih wanita lain.
Ya, berkata bahwa aku tidak cemburu padahal hati ku hancur.
Ya, berusaha menutupi itu dengan senyum bahagia ku yang adalah palsu belaka.
Ya, aku harus melupakan saat dimana kita "manis" bersama.

Lalu? Apa yang harus dilakukan?
Cari tahu! Cari tahu sendiri, apa dia adalah orang yang baik untuk kamu perjuangkan atau baik untuk kamu tinggalkan.
Jika, dia masih terus mengumbar cintanya kepada banyak perempuan, sudah jelas, Dia bukanlah yang terbaik!

"Tapi, dia masih memberikan perhatian pada ku."
Oh iya, sudah pasti.. Pada banyak perempuan pun dia mampu memberikan perhatiannya. Apalagi hanya kepada kamu yang sangat mudah dibodohi. Dibodohi dengan hal yang kau anggap "cinta".

Perempuan cantik..
Iya, aku, kamu dan kalian..
Cinta tidaklah buta.
Cinta mampu melihat kekurangan dan kelebihan pasangannya.
Jika, kamu hanya melihat segala hal baik (yang tidak tahu ketulusannya) tanpa melihat kekurangannya, itu bukan cinta. Tinggalkan.

-Bintang, Senja-